Headline
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Kumpulan Berita DPR RI
Bayangkan saja, pagi-pagi buta petani di Boyolali bangun untuk panen jagung, tapi yang datang malah kawanan kera liar yang ganas. Mereka merusak tanaman, curi makanan, dan bikin warga ketakutan. Nah, untuk atasi masalah ini, pemerintah langsung gerak cepat. Seratusan penembak jitu dari TNI dan Polri dikerahkan. Tapi tunggu dulu, ini bukan cerita film aksi, melainkan kejadian nyata yang penuh ketegangan!
Di lereng Gunung Merapi, Jawa Tengah, habitat kera mulai rusak karena bencana alam. Akibatnya, sekitar 50 ekor kera turun gunung dan serang desa-desa di Boyolali. Tanaman jagung, umbi-umbian, dan buah-buahan rusak parah. Puluhan hektar lahan jadi sia-sia, dan hasil panen warga anjlok drastis. Warga coba usir pakai kayu dan bambu, tapi kera-kera ini pintar dan bandel. Mereka balik lagi dengan jumlah lebih banyak. Situasi ini bikin semua orang khawatir, termasuk anak-anak dan hewan peliharaan.
Kapolsek Karanggede, AKP Margono, bilang, "Kami harus bertindak cepat sebelum kerusakan makin parah." Itulah mengapa operasi darurat ini diluncurkan. Semua orang di desa berharap solusi datang secepatnya.
Sekarang, mari kita bahas siapa saja yang dikerahkan. Ada tim dari Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Republik Indonesia (Polri), dan bahkan Persatuan Penembak Indonesia (Perbakin). Totalnya sekitar seratus orang ahli penembak jitu. Mereka bukan sembarang orang, lho. Setiap anggota sudah dilatih bertahun-tahun untuk tembak akurat dari jarak jauh.
Bayangkan, mereka bawa senjata khusus dengan peluru karet, bukan yang tajam. Tujuannya bukan bunuh, tapi usir dan tangkap kera liar itu. "Kera yang tertangkap akan diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah," kata AKP Margono. Ini menunjukkan betapa pedulinya aparat kita terhadap lingkungan.
Operasi ini dimulai pada Kamis, 3 Agustus 2017, dan berlangsung seminggu. Tim penembak jitu disebar ke titik-titik rawan, seperti ladang jagung dan kebun buah. Mereka menyisir hutan dan desa dengan hati-hati. Selain tembak peluru karet, ada juga jebakan dan suara keras untuk mengganggu kera. Kolaborasi dengan BKSDA bikin semuanya lebih efektif. Hasilnya? Kawanan kera mulai mundur, dan warga bisa bernapas lega.
Salah satu cerita seru: Seorang petani bernama Mbah Parmo hampir diserang kera saat jagain kandang ayam. Untungnya, tim penembak jitu datang tepat waktu dan usir mereka dengan tembakan peringatan. "Saya takut sekali, tapi sekarang aman berkat para pahlawan ini," katanya sambil tersenyum.
Tak hanya aparat keamanan, BKSDA punya peran besar. Mereka tangani kera yang ditangkap, pindah ke habitat baru yang aman. Ini penting supaya masalah nggak berulang. Dengan cara ini, kita jaga keseimbangan alam tanpa menyakiti hewan. Pendekatan ramah lingkungan seperti ini patut diapresiasi.
Dari kejadian ini, kita belajar banyak. Pertama, bencana alam bisa ubah perilaku hewan liar, jadi kita harus siap adaptasi. Kedua, kolaborasi TNI, Polri, dan warga adalah kunci sukses. Ketiga, lindungi habitat satwa supaya nggak ada konflik lagi. Semoga cerita penembak jitu ini jadi inspirasi untuk kita semua.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved