Headline
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Kumpulan Berita DPR RI
Heru Gundul adalah nama yang tak asing bagi pencinta alam Indonesia. Di tengah hutan lebat itu, Heru menghadapi ancaman tersembunyi yang jauh lebih menyakitkan daripada binatang buas: Semut PKI Kalimantan.
Heru Gundul adalah seorang petualang asal Indonesia yang terkenal sebagai pembawa acara "Jejak Si Gundul". Dia ahli survival dan sering menjelajahi hutan-hutan liar. Pada tahun 1997, Heru memutuskan untuk bertahan hidup sendirian selama enam bulan di hutan Kalimantan. Bayangkan, tanpa alat modern, hanya mengandalkan pengetahuan alam. Petualangan ini dimulai dari Semarang, naik kapal ke Sampit, dan akhirnya memasuki hutan lebat Kalimantan yang masih asli waktu itu.
Selama perjalanan, Heru bertemu temannya bernama Tagor. Mereka bekerja di pasar lokal untuk mengumpulkan uang membeli peralatan sederhana. Setelah hampir sebulan, mereka akhirnya masuk ke hutan. Tapi, tantangan besar menanti Heru, termasuk pertemuan mengerikan dengan semut PKI Kalimantan.
Semut PKI Kalimantan adalah nama panggilan yang diberikan Heru untuk semut api atau semut peluru yang hidup di hutan tropis Kalimantan. Semut ini berukuran besar, sekitar separuh jari tangan manusia, berwarna hitam pekat. Mereka hidup dalam koloni besar, bisa mencapai ratusan ribu ekor, dipimpin oleh ratu semut yang bertelur setiap hari.
Mengapa disebut semut PKI? Heru bilang begitu karena sifatnya yang agresif dan serangan berkelompoknya mirip seperti "serangan mendadak". Semut ini sangat sensitif terhadap panas, seperti api unggun. Saat merasakan panas, mereka langsung menyerang dalam jumlah banyak. Gigitan semut PKI Kalimantan bukan main-main. Racunnya kuat, membuat rasa sakit seperti disayat silet hidup-hidup. Satu gigitan saja bisa terasa dari kaki sampai ubun-ubun kepala!
Semut PKI Kalimantan bukan semut biasa. Mereka punya rahang tajam dan sengat yang menyuntikkan racun formic acid. Di alam liar, semut ini membantu mengendalikan hama, tapi bagi manusia, mereka ancaman nyata. Banyak surveyor dan penebang kayu di Kalimantan yang tewas karena diserang semut ini. Koloni mereka bisa menyerang siapa saja yang mengganggu sarangnya.
Malam itu, setelah hari yang melelahkan menjelajah hutan Kalimantan, Heru membuat shelter sederhana dari daun dan ranting. Untuk menghangatkan tubuh dan menjauhkan binatang buas, dia menyalakan api unggun kecil. "Saya pikir aman," kata Heru dalam ceritanya. Tapi, ternyata api itu justru memancing semut PKI Kalimantan datang.
Saat Heru mulai terlelap, dia merasakan gatal di kakinya. Ternyata, semut-semut kecil itu sudah merayap naik ke tubuhnya. Gigitan pertama terasa seperti tusukan jarum panas. Heru bangun dan membunuh satu semut itu. Kesalahan besar! Saat satu semut dibunuh, feromon bahaya menyebar, memanggil ribuan semut PKI Kalimantan lainnya. Mereka menyerbu seperti pasukan, menggigit kulit Heru di mana-mana.
"Rasanya seperti disilet hidup-hidup," ungkap Heru. Sakitnya bukan hanya di tempat gigit, tapi menyebar ke seluruh tubuh. Kaki terasa panas membara, dada sesak, dan kepala pusing. Heru lari ke sungai terdekat, mandi air dingin untuk meredakan racun. Tapi, semut PKI Kalimantan tak mudah menyerah. Mereka mengejar sampai ke air. Heru terpaksa memanjat pohon dan tidur di atas cabang setinggi 5 meter untuk selamat.
Pengalaman ini membuat Heru belajar keras. Selama enam bulan di hutan Kalimantan, dia sering bertemu semut PKI lagi. Setiap kali, dia lebih hati-hati, menghindari api dekat sarang mereka.
Selain semut PKI Kalimantan, Heru menghadapi malaria yang menyerang temannya Tagor. Mereka harus keluar hutan sementara untuk pengobatan. Heru juga pernah kehausan parah hingga terpaksa minum darah musang yang dia buru. "Tenggorokan kering berhari-hari, darah musang rasanya seperti air segar," ceritanya. Hutan Kalimantan penuh ular berbisa, harimau, dan banjir musiman. Tapi, pengalaman digigit semut PKI adalah yang paling traumatis.
Jika suatu hari kamu menjelajah hutan Kalimantan dan bertemu semut PKI, jangan panik. Berikut tips sederhana dari pengalaman Heru:
Untuk pencegahan, pakai pakaian panjang dan sepatu bot saat masuk hutan Kalimantan. Jauhi area berumput tinggi di mana sarang semut PKI bersembunyi.
Semut PKI Kalimantan sebenarnya bagian penting ekosistem hutan. Mereka makan serangga kecil dan bangkai, menjaga keseimbangan alam. Tapi, jangan remehkan. Menurut indeks nyeri Schmidt, gigitan semut api seperti ini level 1-2, lebih sakit dari lebah madu. Di Amerika, semut serupa disebut fire ant dan bisa bunuh anak kecil jika tak diobati.
Cerita Heru digigit semut PKI Kalimantan bukan hanya kisah horor, tapi pelajaran berharga tentang ketangguhan. Di era sekarang, di mana gadget mendominasi, Heru tunjukkan bahwa manusia bisa bertahan dengan alam. Pengalamannya di hutan Kalimantan mengajarkan menghargai sifat, menghindari kesalahan kecil yang fatal, dan bangkit dari rasa sakit.
Banyak pemuda kini terinspirasi ikut survival ala Heru. Acara "Jejak Si Gundul" pun populer karena cerita nyata seperti ini. Jika kamu suka petualangan, coba mulai dari hutan kecil dulu, tapi ingat: hormati semut PKI Kalimantan!
Cerita Heru Gundul digigit semut PKI Kalimantan adalah pengingat bahwa alam punya keajaiban dan bahaya. Sakitnya gigitan itu luar biasa, tapi pengalaman itu buat Heru lebih kuat. Kalau kamu rencana liburan ke Kalimantan, pelajari dulu tentang semut PKI ini. Siapa tahu, kamu bisa cerita serupa suatu hari nanti!
Artikel ini dibuat untuk menginspirasi cinta alam. Selalu utamakan keselamatan saat berpetualang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved