Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Sawit Melimpah, Tapi Jalan Rusak dan Lahan Bermasalah, Cerita dari Rio Pakava, Donggala.

Haryanto Mega
09/11/2025 23:04
Sawit Melimpah, Tapi Jalan Rusak dan Lahan Bermasalah, Cerita dari Rio Pakava, Donggala.
Tim 2 Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (UNDIP) saat menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Kantor Kecamatan Rio Pakava, Sabtu (9/11).(MI/Haryanto Mega)

KEBUN sawit di Kecamatan Rio Pakava, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, membentang luas sejauh mata memandang. Tapi di balik hijaunya perkebunan, tersimpan persoalan klasik yang terus menghantui warga,  jalan rusak, sengketa lahan, dan harga pupuk yang melambung.

Itulah temuan Tim 2 Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (UNDIP) saat menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Kantor Kecamatan Rio Pakava, Sabtu (9/11). Dalam forum tersebut, pemerintah kecamatan, perangkat desa, kelompok tani, dan masyarakat transmigran duduk bersama membahas masa depan ekonomi wilayah yang sebenarnya kaya potensi itu.

Kepala Desa Bukit Indah, Sukarjoni, menuturkan bahwa ketidakpastian lahan dan rusaknya infrastruktur menjadi hambatan utama perkembangan ekonomi masyarakat transmigran.

“Permasalahan infrastruktur jalan harus diperhatikan dan diprioritaskan. Kalau jalan dan sertifikat lahan belum beres, investor tidak akan berani masuk. Padahal potensi sawit di sini luar biasa, tapi kondisi jalannya bikin rugi,” ujarnya.

Jalan berlubang dan jembatan rusak membuat biaya angkut tandan buah segar (TBS) melonjak. Akibatnya, harga sawit di Rio Pakava jauh di bawah harga di Sumatera atau Kalimantan. 

Masalah lain yang mencuat dalam FGD adalah penggunaan bibit sawit non-sertifikasi. Sekitar 40 persen tanaman sawit di wilayah ini berasal dari bibit cabutan yang disemai secara sederhana, sehingga produktivitasnya rendah.

Tak hanya itu, para petani juga mengeluhkan harga pupuk yang selangit. Menurut Widayat, A.Md. dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Rio Pakava, para petani sawit belum bisa menikmati pupuk bersubsidi.

“Harga sawit di sini paling rendah, tapi harga pupuk paling mahal. Kami berharap ada perubahan regulasi soal pupuk subsidi supaya lebih adil,” katanya. 

Meski menghadapi banyak tantangan, semangat masyarakat Rio Pakava tak surut. Mereka tetap berupaya mengelola lahan sambil mencari solusi jangka panjang.

Sebagai bagian dari riset lapangan, Tim Ekspedisi Patriot UNDIP juga mengambil sampel tanah untuk diuji di laboratorium. Tujuannya, mencari tahu jenis tanaman lain yang cocok dikembangkan di kawasan ini.

Tim yang dipimpin oleh Muhammad Iqbal Fauzan, dan beranggotakan mahasiswa serta alumni UNDIP dari berbagai disiplin ilmu itu berkomitmen menyusun data ilmiah yang bisa dijadikan dasar kebijakan oleh pemerintah.

MENUJU EKONOMI BERKELANJUTAN
Menurut Iqbal, kegiatan ini merupakan langkah awal untuk mempertemukan aspirasi masyarakat dengan arah kebijakan pemerintah. “Kami ingin kawasan transmigrasi Rio Pakava tumbuh menjadi pusat ekonomi baru berbasis potensi lokal, khususnya komoditas pertanian unggulan,” jelasnya.

Program Ekspedisi Patriot UNDIP sendiri merupakan bentuk pengabdian masyarakat berbasis riset. Kegiatan ini mendukung tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama poin SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) serta SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi).(E-2). 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya