Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
SAAT ini ketahanan pangan menjadi isu strategis yang tidak hanya menyangkut kesejahteraan masyarakat, tetapi juga berkaitan langsung dengan pertahanan nasional dan stabilitas negara.
Ini dikatakan Asisten Penasihat Presiden Bidang Pertahanan Nasional, Achmad Tjachja dalam kegiatan Penguatan Para Peserta DIKTUKPA TNI AD di Markas Besar Sekolah Calon Perwira Angkatan Darat (SECAPA AD) Bandung Jumat (7/11), yang menekankan pentingnya penguatan pertanian nasional dari semua elemen untuk mewujudkan pertanuan yang tangguh dan berkelanjutan sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian bangsa.
"Peningkatan kapasitas personel TNI AD di bidang pertanian akan memberikan kontribusi nyata terhadap percepatan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, terutama dalam mewujudkan swasembada pangan dan memperkuat ketahanan nasional," tuturnya.
Menurut Achmad, kehadiran Babinsa di tengah masyarakat menjadi kekuatan strategis dalam mengidentifikasi, serta menguatkan potensi komoditas lokal yang dapat membantu ketahanan pangan di tingkat desa. Sektor pertanian tidak hanya berperan sebagai penyedia pangan, tetapi juga sebagai motor penggerak ekonomi dan penopang stabilitas sosial masyarakat.
"Krisis pangan global dan perubahan iklim menunjukkan pentingnya membangun sistem pangan nasional yang tangguh dan berkelanjutan. Kemandirian pangan menjadi benteng pertahanan bangsa dari ketergantungan impor yang semakin tinggi," jelasnya.
Achmad menambahkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, impor beras naik 165,27 persen, gandum 35,31 persen, tepung gandum 14,43 persen, dan gula 0,66 persen.
Kondisi ini menjadi peringatan bagi Indonesia untuk mempercepat program swasembada pangan nasional melalui modernisasi pertanian.
"Konsep ketahanan pangan mencakup empat pilar utama yaitu ketersediaan, akses, pemanfaatan dan stabilitas pasokan. Ke empat pilar ini harus diperkuat agar masyarakat memiliki akses dan keterjangkauan pangan yang berkelanjutan,” terangnya.
Sebagai Ketua Umum Keluarga Alumni Sosial Ekonomi Pertanian Agribisnis Indonesia (KASAI), Achmad menilai sinergi antara sektor pertanian dan pertahanan sangat dibutuhkan untuk memperkuat kemandirian bangsa. Sektor pertanian sendiri berkontribusi 11–13 persen terhadap PDB nasional dan menyerap sekitar 28–30 persen tenaga kerja di Indonesia dan lebih dari 50 persen pendapatan rumah tangga petani juga masih bergantung pada hasil pertanian.
"Hasil pertanian diharapkan mampu menyumbang devisa negara antara Rp500 hingga Rp600 triliun per tahun dan pemerintah menargetkan pertumbuhan PDB pertanian sebesar 4 persen melalui blueprint Kementerian Pertanian 2024–2029," paparnya.
Sedangkan program prioritasnya lanjut Achmad, mencakup optimalisasi lahan, penggunaan benih unggul, pencetakan sawah baru serta pelatihan bagi petani milenial dan Gen Z. Selain itu, pemerintah juga mengemban0gkan komoditas ekspor strategis, peningkatan produksi susu bergizi dan program pekarangan pangan sehat. Ia menilai workshop pertanian sederhana yang produktif merupakan terobosan penting dalam pemberdayaan masyarakat desa.
"Workshop pertanian sederhana yang dilakukan SECAPA TNI AD merupakan hal yang produktif dan merupakan penguatan yang baik saat mendampingi petani di lapangan,” imbuhnya.
Achmad optimistis sinergi seperti yang dilakukan SECAPA TNI AD antara TNI AD, Babinsa dan petani hingga perguruan tinggi, akan mempercepat terwujudnya swasembada pangan nasional. Dari tanah yang subur lahir kemandirian bangsa dan dari kemandirian itu tumbuh pertahanan yang kuat.
Acara ini juga dihadiri Brigjen Ayi Lesmana, Wadan SECAPA TNI AD, yang mendukung penuh kolaborasi penguatan kapasitas personel TNI AD dalam sektor pertanian nasional.(E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved