Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
UPAYA evakuasi dan identifikasi korban runtuhnya gedung musola Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, Jawa Timur, diwarnai dengan aksi protes dari keluarga korban. Pihak keluarga mengatakan evakuasi yang dilaksanakan tim SAR gabungan berjalan lambat.
Menjawab keluhan keluarga korban tersebut, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengatakan operasi SAR dilaksanakan dengan sistem bergantian, melibatkan penggunaan teknologi pendeteksi korban hingga alat berat untuk evakuasi jenazah.
Lebih dari 400 personel gabungan Basarnas, TNI-Polri, BPBD, PMI, relawan, dan berbagai instansi terkait, bekerja siang dan malam selama 24 jam dalam operasi pencarian santri pesantren tersebut.
"Lebih dari 400 personel tim SAR gabungan bekerja siang dan malam selama 24 jam," kata Suharyanto.
Suharyanto mengatakan, tim lapangan menggunakan berbagai peralatan khusus. BNPB juga mengerahkan dukungan logistik dan peralatan, termasuk 200 kantong jenazah, 250 set alat pelindung diri, serta alat berat. Menurut dia, anggaran operasional alat berat disiapkan untuk mendukung pencarian selama sepekan. Selain itu BNPB sudah menyalurkan insentif operasional bagi personel SAR gabungan agar misi berjalan optimal.
Dikatakan Suharyanto, proses evakuasi dan identifikasi membutuhkan tahapan yang tidak bisa dilakukan secara instan. Dalam proses identifikasi, meskipun jenazah telah ditemukan, identifikasi tetap harus melewati pemeriksaan forensik dan administrasi.
"Tidak serta merta begitu ditemukan langsung disampaikan kepada keluarga. Ada prosedur yang harus diikuti," katanya.
langkah itu bertujuan menghindari kesalahan yang dapat menambah beban keluarga korban, dan BNPB telah menjelaskan prosedur ini kepada masyarakat dan orang tua santri terdampak dalam pertemuan sebelumnya. (Ant/H-3)
BNPB menyatakan pembersihan puing reruntuhan gedung musala Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, telah selesai dilakukan.
Basarnas sudah memastikan pencarian korban Ponpes Al Khoziny sudah dihentikan, namun proses identifikasi masih dilakukan Tim DVI Polri.
BNPB memastikan sebanyak 17 jenazah santri Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, telah berhasil diidentifikasi dan diserahkan kepada keluarga.
RS Bhayangkara Surabaya mencatat telah menerima sebanyak 45 kantong jenazah korban ambruknya Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny hingga Minggu pukul 18.00 WIB.
Update terbaru tragedi Ponpes Al Khoziny Sidoarjo: total 121 korban dievakuasi, dengan 104 selamat dan 17 meninggal dunia.Tim SAR gabungan masih melakukan pencarian di lokasi reruntuhan
SETELAH 16 hari menjalani perawatan intensif di RSUD Notopuro Kabupaten Sidoarjo, santri Syehlendra Haical,13, akhirnya diperbolehkan pulang ke Probolinggo, Kamis (16/10).
Maksum mengatakan, semua pesantren yang mengalami musibah serupa harus dibantu oleh negara, bukan hanya Ponpes Al Khoziny.
BNPB melaporkan bahwa sebanyak 50 jenazah korban robohnya bangunan Pesantren Al Khoziny di Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, telah berhasil diidentifikasi.
Identifikasi korban runtuhnya Musholla Ponpes Al Khoziny telah memasuki fase sulit dalam proses identifikasi akibat minimnya sampel dari korban yang dinilai kurang bagus.
Basarnas sudah memastikan pencarian korban Ponpes Al Khoziny sudah dihentikan, namun proses identifikasi masih dilakukan Tim DVI Polri.
AHY menegaskan pentingnya peran aktif pemerintah daerah dalam mengawasi kelayakan bangunan publik dan fasilitas masyarakat, menyusul tragedi robohnya Pondok Pesantren Al Khoziny
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved