Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
SETELAH tiga tahun mendukung kerja pemerintah daerah mengurangi risiko bencana di Flores Timur, Catholic Relief Services (CRS) melalui Proyek FloDESA - Flores Disaster Risk Reduction Enhancement for Sustainable Livelihoods Project mengakhiri kerjanya di Flores Timur. Akhir program dilakukan dengan mengadakan pertemuan pembelajaran akhir FloDESA pada Rabu,( 6/12) di Aula Hotel ASA, Larantuka.
Pertemuan ini dimaksudkan untuk berbagi pembelajaran dan pencapaian yang dialami selama proyek berjalan kepada seluruh pemangku kepentingan. Hadir pada kegiatan tersebut Kementerian Sosial RI (secara virtual), pemerintah Kabupaten Flores Timur dan OPD terkait, LSM serta perwakilan masyarakat dari desa dampingan.
Sejak tahun 2021 Catholic Relief Services telah bekerja sama dengan Yayasan Pembangunan Sosial Ekonomi Larantuka (Yaspensel) dan Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS) melaksanakan Proyek FloDESA di 10 desa rawan bencana di Kabupaten Flores Timur.
Baca juga: 19 Anggota DPRD Flores Timur Laporkan Dugaan Korupsi Pj Bupati Doris Rihi
Pelaksanaan proyek ini didukung oleh pemangku kepentingan di tingkat pemerintah Kabupaten Flores Timur seperti Dinas Sosial dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta Dinas Pertanian.
Melalui proyek ini, CRS, YASPENSEL dan YPPS membantu Pemerintah Kabupaten Flores Timur meningkatkanketangguhan masyarakat dalam menghadapi risiko bencana. Di tingkat desa/masyarakat, kegiatan proyek telah memperkuat kesiapsiagaan dan keberlanjutan mata pencaharian, seperti pembentukan Kampung Siaga Bencana (KSB) sesuai Permensos No.128/2011, kajian risiko bencana, budidaya tanaman pekarangan, pembentukan kelompok simpan pinjam (SILC), demplot sorghum, serta irigasi tetes.
Baca juga: BPKP NTT Gandeng Pemda Flores Timur Gelar Workshop
Di tingkat kabupaten, proyek FloDESA telah melaksanakan berbagai kegiatan penguatan kapasitas pengurangan risiko bencana di antaranya menghidupkan kembali forum PRB tingkat kabupaten, pelatihan standar minimum kemanusiaan SPHERE, sosialisasi penyadaran bencana, menyelenggarakan berbagai diskusi pengurangan risiko bencana, pembentukan sistem peringatan dini, membuat rekomendasi SPM sub-urusan bencana, pemutakhiran Kajian Risiko Bencana Kabupaten (KRB) dan Rencana Penanggulangan Bencana Kabupaten (RPB), Rencana Kontijensi, serta pembuatan Rencana Kedaruratan Penanggualangan Bencana Daerah (RKPDB).
Proyek FloDESA ini didanai oleh Margareth A. Cargill Philanthropy (MACP). Dalam sambutan pembukaannya, Asisten 1 Bidang Pemerintahan Kabupaten Flores Timur Abdur Razak Jakra, yang mewakili Penjabat Kabupaten Flores Timur, menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh untuk Proyek FloDESA di Kabupaten Flores Timur.
"Seperti kita ketahui, Pemerintah Kabupaten Flores Timur dan Proyek FloDESA telah melakukan kerja sama sejak Januari 2021 untuk meningkatkan ketangguhan bencana di tingkat masyarakat dan kabupaten. Saya meyakini, telah banyak manfaat yang kita rasakan dari pelaksanaan proyek tesebut. Untuk itu, mari kita gunakan kesempatan ini untuk berdiskusi, merefleksikan semua pembelajaran dan capaian yang telah diraih selama proyek berjalan. Kami berharap, inisiatif baik seperti yang telah dilakukan CRS melalui Proyek
FloDESA ini dapat direplikasi di desa-desa lain dan memberikan lebih banyak manfaat lagi untuk masyarakat di Flores Timur”, ungkap Abdur Razak.
Kementerian Sosial RI dalam sambutannya yang disampaikan secara online oleh Hasatama Hikmah, Koordinator Kesiapsiagaan dan MitigasiPerlindungan Sosial Korban Bencana Alam (PSKBA) mengucapkan terima kasih kepada Proyek FloDESA yang telah berhasil memanfaatkan sumber daya lokal untuk membangun ketangguhan bencana di Kabupaten Flores Timur.
Ia menambahkan bahwa Direktorat PKSBA sangat mendukung inisiatif ini dan menyatakan komitmen untuk memberikan bantuan berupa lumbung sosial bagi KSB yang belum memiliki lumbung sosial di desanya.
Sementara itu, Project Manager FloDESA Helmi Hamid menyampaikan, penghargaan dan terima kasih kepada para mitra dan pemerintah daerah Kabupaten Flores Timur yang telah terlibat di dalam pelaksanaan proyek dengan komitmen yang tinggi,bersama-sama mendorongmeningkatkan ketangguhan bencana Flores Timur secara berkelanjutan.
Pada Pertemuan Pembelajaran tersebut, Proyek FloDESA menyampaikan pembelajaran yang didapat selama proyek melalui gelar wicara yang membahas tentang dampak proyek yang dirasakan oleh para pemangku kepentingan, perubahan apa yang telah terjadi di masyarakat dan harapan ke depannya. Selain itu, kegiatan juga membahas tentang keberlanjutan dan perkembangan program setelah proyek berakhir.
Kegiatan ditutup dengan pemberian plakat kepada desa dampingan dan seremonial serah terima hasil proyek FloDESA dari Ibu Yenni Suryani selaku Country Manager CRS Indonesia kepada Pemerintah Kabupaten Flores Timur. (Z-10)
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Agam (BPBD) menyatakan dua jembatan darurat di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, hanyut terbawa banjir.
Menurut BPBD, korban meninggal dunia merupakan warga Pacitan yang tertimpa reruntuhan dinding saat gempa terjadi.
Ada dua fasilitas pendidikan yang mengalami kerusakan, yaitu Sekolah Dasar (SD) Jetis dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 Jetis, dengan kerusakan cukup berat.
Analisa cuaca harian menjadi pijakan utama dalam pengambilan keputusan strategis.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan penanganan bencana tanah bergerak di Kabupaten Tegal tidak boleh berhenti pada fase tanggap darurat.
BPBD Kudus mengatakan longsor terjadi di Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog tersebut karena intensitas hujan yang sangat lebat.
“Ini bukan lagi persoalan tata ruang semata, tetapi sudah menjadi sumber peningkatan risiko bencana nasional, kerugian negara, dan ancaman keselamatan masyarakat pesisir,”
Indonesia bersiaga hadapi ancaman gempa; Pemerintah luncurkan Pooling Fund Bencana Rp8,1 T sebagai instrumen pembiayaan dan asuransi pionir dunia.
Diharapkan dari pembelajaran terhadap upaya penanaganan kebencanaan di DIY nantinya, banyak pengalaman yang bisa dibagikan kepada daerah lain di Indonesia.
TANTANGAN dalam mengatasi dan melakukan mitigasi bencana di dunia saat ini disebut semakin kompleks. Berbagai isu global seperti perubahan iklim hingga tekanan urbanisasi menjadi pemicunya.
Penanganan bencana tidak bisa diselesaikan dengan cara yang sama antara korban laki-laki, perempuan dan disabilitas.
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan keberhasilan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada 7-8 Desember 2024.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved