Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH Provinsi Jawa Barat berkomitmen memberikan hak kesehatan bagi masyarakat dengan memberikan stimulasi imunisasi dan vaksinasi yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Nina Susana Dewi di Bandung, akhir pekan lalu.
Nina mengatakan, imunisasi dan vaksinasi adalah salah satu upaya yang
paling efektif dalam membangun kekebalan komunal guna mencegah mewabahnya suatu penyakit di satu daerah.
Jawa Barat sendiri belum lama ini pernah mengalami darurat Kejadian Luar Biasa (KLB) di Purwakarta, akibat Polio. Sejumlah balita terjangkit virus tersebut, yang akhirnya mengharuskan dilakukan Sub PIN Polio.
"Pekan Imunisasi Dunia (PID) digelar dan diikuti hampir 180 negara. Puncaknya pada minggu keempat April. Untuk di Indonesia dilakukan pada 5-10 dan Jawa Barat 13 Mei, di Bio Farma, untuk semua jenis. Seremonial penting guna melengkapi imunisasi," ujarnya.
Kalau tidak diimunisasi, lanjutnya, kita bisa sakit, karena penyakit sebetulnya bisa dicegah dengan imunisasi, di antaranya polio, difteri. Harusnya bisa.
"Tapi di Jawa Barat beberapa kejadian menjadi KLB, sehingga kita
menginginkan anak di Jawa Barat lengkap imunisasinya sehingga tidak
terjadi penyakit," imbuh Nina.
Karena itu, dia meminta kepada masyarakat yang telah mengikuti Sub
PIN Polio tahap 1, untuk kembali menyertakan anaknya menjalani tahap 2,
dimulai pada 15 Mei ini. Terutama di kota/kabupaten yang telah memiliki
capaian 95% ke atas.
Masih rendah
Sementara yang masih rendah akan dimulai pada 22 Mei seperti Kota
Cimahi, Kota Bandung, Kota Bekasi dan Kota Depok. Pelaksanaannya
dilakukan selama dua pekan, terhitung sejak tanggal dimulainya
imunisasi.
"Yang kena sweeping ada empat daerah. Ini mungkin karakter
masyarakatnya. Mereka merasa sudah lengkap, jadi ngapain lagi ikut.
Padahal (Sub PIN) ini tambahan dan merupakan program nasional," ucapnya.
Demikian pula dengan vaksinasi covid-19, yang diakui Nina belum sempurna sesuai harapan pemerintah.
Dia berharap, program ini dapat segera tuntas sehingga pandemi tidak lagi terulang. "Kita memang sudah terimunisasi 86% tahap 1. Kedua sudah tinggi tapi belum 100%, sedangkan booster masih kecil," lanjutnya.
Untuk itu, vaksinasi ditingkatkan. Imunisasi anak sudah dijadwalkan. "Itu harus diikuti. Kalau yang bolong-bolong kita lakukan imunisasi tambahan atau kejar. Jadi semua perintah terkait imunisasi harus kita laksanakan, kita dukung," tandas Nina.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat siap melakukan koordinasi secara
pentahelix dengan lintas sektoral. "Itu yang kita inginkan, agar dengan
PID ini imunisasi anak Indonesia khususnya di Jawa Barat bisa mencapai target setinggi mungkin," katanya. (BY)
PAPDI mengungkapkan 8% kasus campak di Indonesia menyerang orang dewasa. Simak penyebab penurunan kekebalan dan pentingnya vaksinasi dewasa.
Kementerian Kesehatan mengatakan bahwa sampai dengan minggu kesembilan 2026, kasus campak di Indonesia telah turun menjadi 511 kasus dari sebelumnya 531 kasus.
Berdasarkan data Kemenkes hingga minggu ke-8 tahun 2026, tercatat sebanyak 10.453 kasus suspek campak, dengan 8.372 kasus terkonfirmasi dan enam kasus kematian.
Waktu ideal untuk pemberian vaksinasi adalah minimal 14 hari atau dua pekan sebelum keberangkatan guna memastikan perlindungan optimal selama liburan.
LONJAKAN kasus campak yang terjadi belakangan ini dinilai menjadi indikator menurunnya kekebalan kelompok atau herd immunity di masyarakat
Di Indonesia, jadwal imunisasi anak saat ini mengacu pada rekomendasi Kementerian Kesehatan serta panduan terbaru dari IDAI yang diperbarui pada 2024.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved