Selasa 19 Juli 2022, 17:05 WIB

Peluang Resesi Indonesia Dinilai Kecil karena Fundamental Ekonomi Domestik Kuat

Mediaindonesia.com | Nusantara
Peluang Resesi Indonesia Dinilai Kecil karena Fundamental Ekonomi Domestik Kuat

Dok.KSP
Ketua KSP Moeldoko menjadi pembicara pada seminar kebangsaan di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga Jawa Tengah.

 

RESESI mengancam banyak negara di dunia saat ini. Sejumlah pihak bahkan menyebut Indonesia tidak luput dari ancaman tersebut. Namun Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko menampik hal tersebut.
 
Saat berbicara pada seminar kebangsaan di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga Jawa Tengah, Senin (18/7), Moeldoko menyinggung soal hasil survei Bloomberg, yang menyebutkan peluang risiko resesi Indonesia sangat kecil, yakni 3%.

Baca juga: Minyak Turun karena Kekhawatiran Resesi Global

“Hasil survei itu menunjukkan bahwa fundamental ekonomi domestik kita kuat dan memiliki daya tahan di tengah risiko global yang masih eskalatif,” kata Moeldoko.

Moeldoko membeberkan kerja keras pemerintah dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Pada sektor energi, terang dia, pemerintah terus menjaga ketersediaan dan keterjangkuan harga di masyarakat dengan menyalurkan subsidi, yang nilainya mencapai Rp520 triliun. Opsi itu dipertahankan pemerintah agar beban masyarakat dalam mendapatkan kebutuhan energi tidak berat.

“Namun jika subsidi terus diberikan akan membuat uang negara jebol. Untuk itu, skema subsidi akan diubah. Tidak lagi ke barang tapi langsung ke orangnya agar tepat sasaran,” terangnya.
 
Ia juga menjabarkan kerja pemerintah menghadapai ancaman krisis pangan.  Menurutnya pemerintah sudah melakukan peningkatan produktivitas di sektor pertanian untuk menjawab kebutuhan konsumsi pangan dalam negeri, yakni sebesar 2,5 juta ton per bulan.

“Hasilnya selama tiga tahun berturut-turut kita sudah tidak lagi impor beras. Bahkan beras kita surplus. Pemerintah juga melakukan diversifikasi pangan, seperti menanam sorgum, sagu, dan jagung. Ini semua untuk menjawab tantangan ancaman krisis pangan dunia,” sambung Moeldoko.

Pada kesempatan itu, Moeldoko juga menegaskan, bahwa mengelola negara di lingkungan global tidak mudah karena tantangannya sangat besar. Terlebih, di saat global menghadapi berbagai kejutan-kejutan, seperti pandemi covid-19 dan perang Ukraina – Rusia, yang berdampak pada terputusnya pasok rantai dan kenaikan harga-harga komoditas.

Dalam menghadapi itu, Moeldoko menyampaikan lima teorinya. Pertama, mampu adaptif terhadap perubahan, membangun kecepatan di segala lini, berani mengambil risiko atas kebijakan yang diambil secara konstitusional, siap menghadapi kompleksitas akibat globalisasi, dan siap merespon kejutan -kejutan yang akan terjadi akibat kemajuan teknologi.  

“Kalian sebagai calon pemimpin bangsa harus siap dengan semua perubahan itu,” tegas Moeldoko. (RO/A-1)

Baca Juga

Ist

Komitmen Hasnur Group Menjalankan Bisnis Berkelanjutan 

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 20 Agustus 2022, 05:30 WIB
Presiden Direktur Hasnur Group Jayanti Sari, Hasnur Group merespons tuntutan global agar dapat menjaga kenaikan suhu bumi tidak...
DOK MI

Ratusan Titik Panas Bertebaran di Babel

👤Rendy Ferdiansyah 🕔Jumat 19 Agustus 2022, 23:52 WIB
RATUSAN titik panas atau hotspot yang diduga dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terpantau satelit di Bangka Belitung (Babel), Jumat...
DOK MI

DCF 2022 Digelar 2-4 September

👤Lilik Darmawan 🕔Jumat 19 Agustus 2022, 23:46 WIB
SETELAH digelar secara virtual karena pandemi Covid-19, ajang Dieng Culture Festival (DCF) 2022 akan dilaksanakan secara tatap...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya