Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Mengatasi Serbamahal di Kabupaten Puncak

BU/EM/MC/N-2
03/6/2016 05:07
Mengatasi Serbamahal di Kabupaten Puncak
(www.puncakkab.go.id)

KETERBATASAN infrastruktur membuat warga di Kabupaten Puncak, Papua, harus merogoh kocek lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan hidup jika dibandingkan dengan warga daerah lain di Indonesia. Bayangkan saja, untuk membeli air mineral, mereka harus membayar Rp25 ribu, beras satu karung Rp700 ribu, gula Rp50 ribu per kilogram, bensin Rp50 ribu per liter, dan semen Rp2,6 juta per sak.

"Harga semen di Kabupaten Puncak termahal di dunia. Masyarakat sangat menderita, apalagi sumber pendapatan mereka juga masih sangat kurang," papar Bupati Puncak Willem Wandik saat menghadiri Peringatan Hari Kesaktian Pancasila, di Bandung, Jawa Barat, Rabu (1/6).

Nyaris setiap hari, Willem harus mendengar teriakan dan harapan warganya untuk bisa menurunkan harga barang. Hanya, mahalnya biaya transportasi memang tidak bisa dihindari.

Satu kali carter pesawat, misalnya, seorang pengusaha harus merogoh dana Rp37 juta untuk membawa barang dari Timika ke Puncak. Untung pengusaha juga sangat tipis.

Untuk menekan biaya transportasi, pemerintah kabupaten pun membeli pesawat kargo.

Selama dua tahun, APBD digulirkan sebesar Rp80 miliar dan Rp40 miliar.

Upaya lain ialah pembangunan jalan darat.

Tahun ini, Bupati Willem telah meluncurkan penggunaan alat-alat berat untuk membuka isolasi di Distrik Ilaga.

"Kami juga tengah membangun jalan trans-Papua, dengan menggunakan dana APBD dan APBN. Program Nawa Cita Presiden Joko Widodo terus diterapkan di Puncak dengan pengerahan alat berat untuk membangun infrastruktur," jelas bupati yang berpasangan dengan Wakil Bupati Benyamin Ngali itu.

Kabupaten Puncak ialah daerah otonom yang dimekarkan dari Kabupaten Puncak Jaya pada 29 Oktober 2008.

"Sebagai kabupaten baru, kami menghadapi banyak tantangan, hambatan, dan permasalahan. Namun, kami juga sadar Kabupaten Puncak dianugerahi Tuhan dengan potensi sumber daya alam dan sosial-kultural yang bernilai tinggi," lanjut Willem.

Masalah besar lain di daerah itu ialah pendidikan.

Masih banyak remaja belum bisa baca dan tulis.

"Untuk itu, kami menggandeng pengajar dari Universitas Gadjah Mada untuk mengembangkan program Guru Penggerak Daerah Terpencil. Mereka juga membimbing guru yang didatangkan dari seluruh Indonesia," papar pria kelahiran 17 Agustus 1975 itu.

Hasilnya, saat ini sudah ada tambahan 93 guru yang bertugas di Kabupaten Puncak.

Kehadiran guru perintis itu diharapkan bisa meningkatkan mutu pendidikan.

"Pemkab juga mengembangkan sekolah mulai PAUD, SD, SMP, hingga SMA dengan pola berasrama. Pola itu membuat mereka lebih aktif belajar dan guru lebih mudah mengajar," tandas Bupati. (BU/EM/MC/N-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya