Kamis 14 Oktober 2021, 15:48 WIB

Dinkes Bandung Barat Catat 908 Orang Alami Gangguan Kejiwaan

Depi Gunawan | Nusantara
Dinkes Bandung Barat Catat 908 Orang Alami Gangguan Kejiwaan

ANTARA FOTO/Fakhri H
Ilustrasi orang dengan gangguan jiwa

 

DINAS Kesehatan (Dinkes) mencatat 908 orang di Kabupaten Bandung Barat mengalami gangguan kejiwaan. Mereka saat ini sedang menerima perawatan di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes).

Petugas Pengelola Kesehatan Jiwa dan Penyakit Tidak Menular Dinkes Bandung Barat Dewi Setiawati menyatakan sebanyak 908 orang yang mengalami gangguan kejiwaan tersebut sudah menerima perawatan rutin sesuai hasil diagnosa masing-masing pasien.

"Cara perawatannya dilihat dari tingkat keparahan pasien, jadi ada yang dirawat di puskesmas tapi ada juga yang di rumah sakit," kata Dewi, Kamis (14/10).

Ratusan orang ini mengalami gangguan jiwa karena berbagai penyebab, seperti faktor biologis, psikologis, dan faktor lingkungan sehingga perawatan dan penanganan setiap pasien pun berbeda-beda.

"Sebenarnya untuk penanganan orang dalam gangguan kejiwaan, kita harus tahu apakah latar belakangnya ada keluarga yang sama mengalami gangguan jiwa atau tidak, karena ini merupakan penyakit yang bisa ditularkan juga," ujar Dewi.

Baca juga: Penanganan Orang dengan Gangguan Jiwa masih Terkendala

Baru-baru ini, orang yang mengalami gangguan jiwa sempat mengamuk hingga menusuk tiga orang warga di Kampung Ciwaruga, Desa Ciwaruga, Kecamatan Parongpong, satu orang bahkan meninggal dunia.

Terkait kondisi kejiwaannya, Dewi menyebut diperkirakan dia tidak mendapatkan perawatan intensif dokter hingga menyebabkan emosinya labil.

"Kalau mendapat perawatan pasti dalam pemantauan dokter, dan akan diberikan obat penenang. Kalau ini kan, karena memang tidak terpantau dan tidak dalam pengobatan, jadi sewaktu-waktu dia bisa agresif," tukasnya.

Menurut Dewi, sebetulnya dia bisa disebut terlambat penanganan. Seharusnya, lanjut dia, pihak keluarga sudah bisa mendeteksi gejala gangguan jiwa tersebut sejak awal.

"Harusnya bisa dideteksi dari awal, karena pasti ada perubahan perilaku mulai dari mengurung diri dari lingkungan, kemudian tingkah laku yang berbeda dengan orang lain, keluarga harusnya sudah curiga," pungkasnya.(OL-5)

Baca Juga

rnli.org

Polairud Jepara Mengapresiasi Peningkatan Kesadaran Nelayan Kenakan Life Jacket

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 28 Oktober 2021, 10:21 WIB
Tidak ada alasan bagi nelayan tidak memakai jaket pelampung saat melaut karena sudah diberikan bantuan alat keselamatan saat...
Medcom

Polisi Hentikan Penyelidikan Kasus Pembunuhan Sejoli di Tasikmalaya

👤Kristiadi 🕔Kamis 28 Oktober 2021, 08:56 WIB
Penghentian kasus itu dilakikan lantaran pelaku ST, 56, pensiunan TNI-AD telah melakukan bunuh diri, Sabtu...
Medcom

Cemburu Buta Jadi Motif Penembakan Sesama Polisi di Lombok Timur

👤Hilda Julaika 🕔Kamis 28 Oktober 2021, 08:49 WIB
Motif MN menembak HT lantaran cemburu buta usai melihat korban sering berkirim pesan (chatting) dengan istri...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Menghadang Ganasnya Raksa

Indonesia masih menjadi sasaran empuk perdagangan ilegal merkuri, terutama dari Tiongkok dan Taiwan. Jangan sampai peristiwa Minamata pada 1956 di Jepang terjadi di sini.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya