Jumat 24 September 2021, 09:35 WIB

Temanggung Kembangkan Eduwisata di Bansari

Tosiani | Nusantara
Temanggung Kembangkan Eduwisata di Bansari

dok.Dinpermades Kabupaten Temanggung
Kawasan rintissan eduwisata Bansari, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

 

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Temanggung, Jawa Tengah mengembangkan rintisan eduwisata risient village, di 13 desa wilayah Kecamatan Bansari. Hal ini merupakan program pemberdayaan masyarakat yang diprakarsai Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dinpermades).

Peluncuran kawasan perdesaan eduwisata bertajuk 'Eling Mbansari' dilakukan hari ini, Jumat (24/9) di Embung Bansari bersamaan dengan acara Jumat Ngopi. Sejumlah pejabat daerah dan pimpinan hotel hadir di acara tersebut.

Kepala Dinpermades Kabupaten Temanggung, Gema Artisti Wahyudi, menjelaskan, sebelumnya telah terbentuk tiga kawasan pedesaan di Kabupaten Temanggung pada tahun 2017 dan 2018, namun belum optimal pelaksanaannya. Dimana tujuan pembangunan Kawasan Perdesaan belum tercapai. Diantaranya mempercepat dan meningkatkan kualitas pelayanan, pengembangan ekonomi, dan/atau pemberdayaan masyarakat desa melalui pendekatan partisipatif dengan mengintegrasikan berbagai kebijakan, rencana, program, dan kegiatan para pihak pada kawasan yang ditetapkan.

"Penyebabnya, antara lain belum terpadunya pengembangan potensi antar desa, belum adanya sinergitas peran Pemerintah Daerah, Pemerintah Desa, masyarakat, komunitas, pengusaha, perguruan tinggi dan media massa," ujar Gema.

Penyebab lain, belum adanya pengembangan potensi desa dengan sentuhan kreatif. Belum teridentifikasi potensi unggulan dan potensi pendukung yang akan dikembangkan. Belum optimalnya pendampingan masyarakat dan pemerintah desa dalam pemanfaatan dan pengembangan sumber daya alam dan potensi desa. Serta rendahnya sumber daya manusia di desa.

"Kami berusaha melakukan perubahan dengan program Strategi Membangun Resilient Village Melalui Integrasi Potensi Desa Berbasis Ekonomi Kreatif Di Kawasan Perdesaan Bansari Dengan Tatanan Kebiasaan Baru," ujar Gema.

Dijelaskan, Resilient Village adalah desa yang kuat dan tangguh. Kawasan desa ini harus memiliki ketahanan sosial, ketahanan ekonomi, dan ketahanan ekologi sehingga mampu mengurangi resiko (mitigasi). Desa juga harus mampu menyesuaikan diri terhadap resiko (adaptasi), dan memiliki kegiatan baru di luar kebiasaan dalam menangani resiko (inovasi).

"Tujuan program ini untuk meningkatkan kualitas pelayanan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa, meningkatkan pendapatan asli desa, meningkatan kesejahteraan masyarakat dan upaya penanggulangan kemiskinan," kata Gema..

Ia menerangkan, pembauran menjadi kesatuan yang utuh atau bulat sehingga pengembangan potensi unggulan kawasan perdesaan dan potensi pendukung yang dikelola menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi. Selanjutnya, perwujudan nilai tambah dari kekayaan intelektual yang bersumber dari kreatifitas manusia yang berbasis warisan budaya, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

"Jenis ekonomi kreatif yang dikembangkan di sana ada sentuhan kreatif kuliner, kerajianan rakyat, fesyen, aplikasi, game, design interior, arsitektur, TV dan radio, penerbitan, seni pertunjukan, musik, fotografi, design komunikasi visual, design produk, periklanan, senu rupa, film dan video,"papar Gema.

Adapun 13 desa itu dipilih menjadi rintisan eduwisata resilient village lantaran memiliki kesamaan potensi dan masalah dalam upaya mempercepat dan meningkatkan kualitas pelayanan, pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat desa  melalui pendekatan pembangunan partisipatif. Tiap desa akan dilatih berinovasi dan mengembangkan potensi diri.

"Strategi yang dibuat untuk rintisan eduwisata itu adalah penguatan kelembagaan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengembangan potensi, menawarkan sejumlah paket wisata," katanya.

Gema menambahkan, Kecamatan Bansari memiliki potensi Kawasan Perdesaan. Diantaranya, camping ground, homestay, pendakian sindoro, trail adventure, sendang hijau, kolam renang, spot sunrice, kali telon, bcl,  wisata sidengok, wisata religi, wisata sejarah dan budaya.

Kecamatan Bansari juga merupakan salah satu sentra kopi arabika, produsen makanan ringan, sentra batik dan kerajinan miniature  perajang tembakau, kerajinan kulit, kerajinan dari arcilic, kerajinan lampu dari paralon. Daerah ini memiliki potensi hortikultura: tembakau, cabai, tomat, greenhouse tlogowero, kebun jambu. Juga komoditas peternakan berupa pembibitan lele, ternak cacing, ikan.

Diharapkan model dalam proyek perubahan ini menjadi role model bagi Kawasan perdesaan yang lainnya dan bagi desa desa yang lainnya. Sehingga akan berdampak pada peningkatan pendapatan asli desa, peningkatan kesejahteraan masyarakat desa dan penurunan angka kemiskinan. (OL-13)

Baca Juga: Objek Wisata Air Panas Raja Simalungun Dibenahi

 

Baca Juga

MI/Denny Susanto A

Kalsel Raih Subroto Award 2021

👤Denny Susanto A 🕔Selasa 30 November 2021, 12:40 WIB
PEMPROV Kalsel kembali meraih penghargaan  bidang efisiensi energi Subroto Award  (PSBE) 2021. Pemprov Kalsel meraih juara III...
Ist

Relawan HaloPuan Gelar Kegiatan Melawan Stunting di Kota Tasikmalaya

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 30 November 2021, 11:23 WIB
Sekitar 200-an warga, terdiri dari ibu hamil, ibu menyusui bersama balita mereka, dan kader-kader posyandu mengikuti kegiatan penyuluhan...
Antaranews.com

Dosen Universitas Siliwangi Bantu Budidaya Ikan Warga untuk Ketahanan Pangan

👤Kristiadi 🕔Selasa 30 November 2021, 06:38 WIB
Agar perekonomian warga Desa Tawangbanteng, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya bisa kembali bangkit di masa...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya