Kamis 16 September 2021, 00:06 WIB

Kisah Para Pelintas di Walahar Ekspress

Iis Zatnika | Nusantara
Kisah Para Pelintas di Walahar Ekspress

Dok Antara
PeduliLindungi menjadi syarat perjalanan kereta api

 

Saatnya mulai jalan-jalan lagi. Jemu terpenjara di dalam kota dan kendati beberapa kali mengikuti tur virtual yang makin lama makin keren, tetap saja, ketika keran buat jalan-jalan dibuka, semangat buat pelesiran kembali membuncah! 

Saya memilih untuk merayakan pembukaan 20 tempat wisata pada kabupaten/kota PPKM level 3 di Pulau Jawa itu dengan melakukan pelesiran yang memadukan gaya ransel dan koper yang komplit menghadirkan pengalaman seru. Target saya, mengeksplorasi The Lodge Maribaya yang menjadi satu dari tujuh destinasi di Jawa Barat yang diumumkan dibuka sejak 8 September, atau satu dari 20 objek wisata di Pulau Jawa. 

Menginap dan melakukan aneka aktivitas di lokasi nan Instagramable di Kabupaten Bandung Barat itu, saya capai menggunakan Kereta Api Lokal Walahar Ekspress. Selasa (15/9), saya berangkat dari Stasiun Cikarang, turun di Stasiun Purwakarta dan dilanjutkan perjalanan menggunakan mobil melewati wilayah dataran tinggi Purwakarta, Subang hingga Bandung Barat yang sejuk. 

Pelesiran kali ini juga istimewa karena untuk pertama kalinya saya berkenalan dengan aplikasi PeduliLindungi yang kini tengah getol disosialisasikan sebagai peranti utama dalam berbagai kegiatan masyarakat. Cuma butuh tiga menit buat saya untuk mengunduhnya sebelum petugas di Stasiun Kereta Api Cikarang melayani pembelian tiket menuju Purwakarta seharga Rp4 ribu. PeduliLindungi kini menggantikan Surat Tanda Registrasi Pekerja (STRP), surat tugas, dan keterangan lain yang sebelumnya berlaku bagi penumpang Kereta Api  Lokal serta Commuter Line (CL). 

Saya telah divaksin Sinovac pertama pada Agustus 2021 dan kendati masih menunggu jadwal vaksin kedua, diperkenanankan membeli tiket. Syarat yang berlaku dalam ketentuan yang dimuat dari Surat Edaran Kemenhub No. 69/2021 itu memang minimal satu kali vaksin. 

Sebelum tiket sampai di tangan, petugas meminta Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang nantinya akan digunakan untuk penapisan tahap kedua. Verifikasi vaksin tak cukup diperlihatkan dari ponsel pengunjung, namun didasarkan data yang muncul dari sistem PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang muncul di komputer petugas. 

Sukses check in di PeduliLindungi dan menempati tempat duduk dan lapang di kereta dengan pendingin udara yang sejuk itu, selama 90 menit saya menikmati panorama kota pinggiran yang segera berganti dengan suasana desa yang tenang. Walahar Ekspress memang menjadi salah satu moda transportasi saya saat ingin pelesiran di kawasan Jatiluhur, Plered atau mendaki di Gunung Bongkok, semuanya di Purwakarta. Pun, saat ingin menuju pemandian air panas Ciater di Subang atau Gunung Tangkuban Perahu, Maribaya hingga Jaya Giri di Lembang, Bandung Barat.

Sensasi menikmati suasana kereta yang pada hari kerja didominasi para pekerja komuter yang setiap hari harus menempuh dua hingga tiga kota untuk mencari nafkah dan terbantu dengan tiket nan murah serta kereta yang nyaman buat mereka beristirahat sebelum dan sesudah bertugas, teramat khas. Di akhir pekan, giliran para backpacker dan warga yang ingin bersilaturahmi ke kerabatnya yang berbeda kota, yang hadir di gerbong-gerbong yang dilengkapi toilet itu. 

Namun, yang paling saya rindukan adalah pengalaman berjumpa para bapak-bapak pengobor, istilah buat pencari ikan, ular serta aneka reptil yang berlangganan naik dari Cikarang dan turun bersama saya di Purwakarta. Mereka lazimnya menaiki kereta terakhir, yang kini jadwalnya di pukul 17.39. 

Mereka membawa serta alat pancing dari logam yang bisa mengalirkan listrik saat mereka menemui hewan buruannya. Mereka juga membawa serta karung dan keranjang bambu buat menampung hasil buruannya. Kali ini pun saya sengaja menaiki kereta yang berangkat jelang maghrib buat berjumpa mereka. Benar saja, mereka saya temui di gerbong sebelah yang mulai lowong. Mereka pun kembali mengisahkan kontribusinya sebagai pemasok warung dan restoran makanan eksotis di sekitar Jakarta dengan hasil buruan biawak serta ularnya. 

"Kalau sungainya mah acak saja, kalau sering ke sungai yang satu ya pindah ke sungai lain, supaya bisa tunggu hewannya gede dulu. Yah memang agak bahaya sih, karena sebagian ular yang ditangkap itu berbisa, ada kobra juga," kata Cecep, salah satu dari mereka mengisahkan ikhtiar mereka untuk tetap bertahan di masa pandemi. 

Cecep dan tiga kawannya, adalah sosok-sosok pahlawan keluarga yang bisa menunaikan tugasnya setiap malam tanpa perlu mengeluarkan ongkos mahal berkat setianya Walahar Ekspress melayani para komuter antar kota. Turun di Stasiun Purwakarta, kendaraan telah menjemput, saya pun check out di PeduliLindungi, sembari bertekad, akan kembali ke Walahar Ekspress agar bisa berjumpa para pelintas Walahar Ekspress nan istimewa! (*/X-6)

Baca Juga

MI/Dok IDI Papua

IDI Papua Serukan Perlindungan terhadap Tenaga Kesehatan Medis

👤Basuki Eka Purnama 🕔Jumat 17 September 2021, 10:18 WIB
"Kami juga berharap kejadian serupa tidak lagi berulang sehingga tenaga kesehatan dapat memberikan pelayanan dengan tenang tanpa ada...
MI/Tiyok

Korupsi Dana Covid, Polisi Tahan Bupati Mamberamo Raya

👤Hilda Julaika 🕔Jumat 17 September 2021, 10:11 WIB
Penahanan dilakukan pasca penetapan sebagai tersangka sejak Juni lalu oleh penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus)...
MI/Marcelinus Kelen

Gubernur Papua Ungkap Dukacita Atas Tewasnya Nakes di Kiwirok

👤Basuki Eka Purnama 🕔Jumat 17 September 2021, 09:49 WIB
Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang diharapkan memperhatikan kebutuhan korban selamat dalam peristiwa...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Siap Bawa Pulang Piala Sudirman

 Terdapat empat pemain muda yang diharapkan mampu membuat kejutan di Finlandia.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya