Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
BANYAK pihak menyambut baik kebijakan pemerintah yang mulai menerapkan fase adaptasi kebiasaan baru. Sebab hal itu diperkirakan bakal kembali menggerakan roda perekonomian yang sempat lumpuh selama pandemi covid-19.
Salah satu pihak yang paling senang dengan kebijakan itu adalah industri perhotelan dan pariwisata. Sebab mereka memang menjadi salah satu pihak yang terpukul. Kini satu per satu pengelola operasional jasa tersebut mulai beraktivitas lagi, terutama yang berada di kota-kota besar.
Baca juga: Industri Perhotelan Berkreasi di Tengah Pandemi Covid-19
Perwakilan PHRI Pusat, AB Sadewa, mencontohkan, hotel-hotel yang berada di sekitar Bogor dan Bandung yang mulai kembali bergeliat. Pada hari biasa, menurutnya tingkat hunian bisa mencapai 30%.
Angka itu bertambah signifikan pada akhir pekan sehingga keterisian hotel bisa mencapai 50-60%. "Ini okupansi general setelah PSBB," katanya dalam webinar tentang perhotelan, Rabu (15/7).
Meski begitu, menurutnya keterisian hotel ini nyaris sepenuhnya oleh konsumen perorangan. Adapun dari kalangan perusahaan/lembaga belum menunjukkan tanda-tanda yang menggembirakan. "Market corporate belum ada," katanya. Namun, menurutnya keterisian pada masa seperti ini belum dirasakan oleh semua daerah.
Sebab, menurut dia hotel-hotel yang berada di luar Jawa belum menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Selain karena akses yang sulit ditempuh, menurutnya situasi di daerah pun cukup sulit seperti dengan adanya syarat tes PCR bagi calon penginap.
Dia menyebut perhotelan menjadi salah satu industri yang terdampak paling parah akibat pandemi covid-19. Selain terpaksa harus menghentikan operasional terutama pada awal merebaknya kasus tersebut, mereka pun terpaksa merumahkan karyawan bahkan hingga ada yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).
Dia mengatakan, pada awal diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB), sedikitnya tercatat 1.600 hotel yang tutup. Penghentian operasional itu sebagai imbas dari menurunnya tingkat hunian. "Penginapan kurang, okupansi single digit," katanya.
Senada, CMO tiket.com, Geary Undarsa, mengatakan, pihaknya melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan hunian hotel pada masa adaptasi baru ini. Salah satunya dengan program tiket flexi yang mulai diluncurkan hari ini. Melalui cara itu, pihaknya akan menggaet konsumen hotel khususnya yang bertujuan untuk liburan.
Menurut dia, terdapat berbagai keuntungan bagi konsumen yang memesan hotel melalui program tersebut. Salah satunya bisa menggunakan kamar secara fleksibel setelah memesan hotel dengan tiket flexi.
"Biasanya kalau kita pesan hotel, kita harus sudah tentukan tanggalnya. Kalau dengan tiket flexi, kita bisa pesan hotel sekarang, tapi kita bisa fleksibel waktunya," kata dia.
Voucher hotel yang sudah dibeli melalui tiket flexi menurutnya bisa digunakan hingga satu tahu ke depan. "Jadi pesan dulu, penggunaannya bisa bebas kapan pun sesuai keinginan kita hingga satu tahun ke depan," katanya.
Selain memudahkan calon konsumen dengan waktu yang fleksibel, menurut dia cara seperti itu diharapkan mampu membantu manajemen hotel terutama dari sisi keuangan. "Kita tahu saat awal pandemi bagaimana kondisi perhotelan. Mudah-mudahan dengan cara seperti ini kita bisa membantu mereka untuk mendapat uang di muka," katanya. (BY/A-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved