Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Kekeringan Mulai Melanda Purwakarta

(RZ/BB/LN/YK/CS/UL/AD/BY/JI/N-3)
09/7/2019 23:20
Kekeringan Mulai Melanda Purwakarta
Warga menggembala kambing di lahan kering yang ditanami padi berusia satu bulan(ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)

PEMERINTAH Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, menyiapkan anggaran sebesar Rp350 juta untuk menanggulangi kekeringan akibat kemarau. Selain itu, Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) juga telah siap menyalurkan air bersih untuk warga yang mulai kesulitan mendapatkannya.

Saat ini, dana penanggulangan bencana tersebut, telah tersimpan di dua dinas, yaitu Dinas Damkar sebesar Rp150 juta dan di Bagian Kesra Setda Purwakarta Rp200 juta. Dana itu siap dikucurkan jika dampak kekeringan semakin meluas.

Sebagai informasi, dari 17 kecamatan di Purwakarta, 13 di antaranya masuk kategori rawan kekeringan atau zona merah, sehingga dinyatakan siaga keke-ringan. Menurut Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Purwakarta, Wahyu Wibisono, pihaknya sudah bersiaga untuk memenuhi permintaan air bersih dari masyarakat.

Terpisah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, sejauh ini telah menyalurkan sekitar 60 ribu liter air bersih untuk masyarakat yang terdampak kekeringan. Sampai saat ini, enam kecamatan telah melaporkan mengalami krisis air bersih.

"Kami sudah menyalurkan air bersih memakai 12 tangki. Satu tangki berkapasitas 5.000 liter," kata Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Kabupaten Sukabumi, Eka Widiaman, kemarin. Enam wilayah yang mendapatkan air bersih, yakni Kecamatan Gunungguruh, Palabuhan Ratu, Gegerbitung, Cisolok, dan Simpenan.

Sementara itu, produksi salak di Desa Srumbung, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dilaporkan menurun akibat kemarau. Menurut petani di Desa Srumbung, Rahmah, produksi salak sudah anjlok 70%.

"Bisa lihat sendiri, jumlah salak yang dijual berkurang," keluhnya. Dia melanjutkan, pada musim hujan, produksi salak biasanya melimpah. Tapi, pada kondisi sekarang, yakni siang kering dan malam lembab, tidak cocok untuk salak.

Akibatnya, tanaman salak tidak bisa berbuah maksimal. "Padahal, salak bisa dipanen sepanjang tahun," tuturnya. Meski begitu, para petani berupaya agar bunga salak mereka tidak rontok selama musim kering.

Sebagian menutup bunga salak dan mengaliri lahan dengan air. Menurut Rahmah, jika kondisi normal, petani bisa memanen 5 ton salak per hektare. (RZ/BB/LN/YK/CS/UL/AD/BY/JI/N-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya