Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Kemarau Berdampak pada Debit Air Waduk Cacaban

Suparji Rasban
03/7/2019 18:00
Kemarau Berdampak pada Debit Air Waduk Cacaban
Muka air Waduk Cacaban menurut drastis akibat kekeringan.(MI/Suparji Rasban)

MUSIM kemarau panjang yang terjadi sekarang berdampak pada menyusutnya waduk-waduk di daerah seperti Waduk Cacaban di Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

Saat ini waduk yang digunakan untuk mengairi 17 ribu hektare (ha) lahan pertanian itu menyusut hanya menyisakan 29 juta meter kubik air saja. Normalnya volume air waduk adalah yang 49 juta meter kubik.

Akibatnya banyak tanaman pertanian di wilayah yang jauh dari waduk mengalami kekeringan dan tanaman padi mengalami puso.

Tak hanya itu, akibat menyustnya debit air Waduk Cacaban juga menyebabkan terjadinya krisis air bersih di sejumlah wilayah kecamatan
di Kabupaten Tegal.

Koordinator Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana yang
membawahi Waduk Cacaban, Kuswandi, menyebutkan, penurunan debit air Waduk Cacaban sudah terjadi sejak Februari hingga sekarang. "Kondisi normalnya 49 juta meter kubik saat ini hanya 29 juta meter kubik," ujar Kuswandi, Rabu (3/7).

Kuswandi menyampaikan dengan menyusutnya air Waduk Cacaban tersebut,
pengairan areal persawahan terpaksa harus dengan cara bergilir setiap
seminggu sekali. "Gilirannya untuk Unit Pelaksana Tugas Daerah (UPTD) Pangkah dan Adiwerna," terang Kuswandi.

Dia memprediksi penyusutan debit air masih akan terus terjadi hingga
September tahun ini. "Kalau untuk normalnya lagi diperkirakan Bulan Januari tahun 2020. Itu juga tergantung kondisinya nanti bagaimana.
Kalau musim kemaraunya panjang ya kondisi airnya mulai normalnya lagi
setelah Januari 220," ucap Kuswandi.

Menurut Kuswandi, pada musim kemarau sekarang terjadi penurunan
elevansi ketinggian muka air waduk hingga sekitar 7-8 centimeter per
harinya. "Itu saja masih akan mengalami penurunan hingga September tahun 2019," jelasnya.

Waduk Cacaban di Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal tersebut
digunakan untuk mengairi areal persawahan di empat kecamatan yakni Kedungbanteng, Pangkah, Tarub, dan Slawi. (JI/OL-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Denny parsaulian
Berita Lainnya