Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Petani NTT Diminta Proaktif Susun RDKK

Palce Amalo
13/2/2019 12:30
Petani NTT Diminta Proaktif Susun RDKK
(MI/Palce Amalo)

PETANI di Nusa Tenggara Timur (NTT) diminta proaktif menyampaikan kebutuhan pupuk selama satu untuk dituangkan dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK).

Hal itu bertujuan mengantisipasi keterlambatan distribusi pupuk ke petani di awal musim tanam seperti saat ini.

Kepala Perwakilan PT Pupuk Kaltim wilayah NTT Didik Trionoe mengatakan sejumlah daerah terlambat menerbitkan RDKK karena sejumlah persoalan seperti petugas penyuluh lapangan (PPL) tidak maksimal melakukan verifikasi dan validasi terhadap kebutuhan pupuk yang tertuang dalam RDKK.

"RDKK itu pasti ter-update, mungkin PPL ada kesibukan lain atau kelupaan," kata Didik Trionoe kepada Media Indonesia, Rabu (13/2).

Terkait persoalan tersebut, Didik minta PPL tidak terlambat menerbitkan RDKK agar distribusi pupuk ke petani lancar.

Baca juga: Konservasi Tanaman Kopi Mencegah Longsor

Menurutnya, setelah RDKK disampaikan ketua kelompok tani ke PPL dan selesai verifikasi dan validasi, akan disampaikan ke camat untuk direkap.

Pihak kecamatan merekap seluruh RDKK dari desa dan kelurahan yang kemudian diserahkan ke kabupaten untuk disusun kebutuhan pupuk bersubsidi seluruh wilayah tersebut.

Namun, dia mengingatkan, kebutuhan pupuk bersubsid yang tertuang dalam RDKK, tidak dapat dipenuhi seluruhnya oleh pemerintah.

Dia mencontohkan, kebutuhan pupuk urea bersubsidi yang disalurkan PT Pupuk Kaltim di daerah itu sekitar 70.000 ton, namun untuk distribusi awal 2019 hanya sebanyak 27.702 ton. Dengan demikian, di antara petani yang menyerahkan RDKK, tidak kebagian pupuk bersubsidi.

"Harapan kami, petani yang tidak kebagian itu adalah mereka yang selama ini mendapat bantuan pupuk dari pemerintah. Hasil panennya disimpan untuk di-backup untuk membeli pupuk," ujarnya.

Menurut dia, pada musim tanam tahun lalu, Pupuk Kaltim melakukan kegiatan demplot pengembangan budidaya padi seluas satu hektare di Persawahan Kelurahan Tarus, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. Pupuk disediakan pihak Pupuk Kaltim. Petani hanya mengeluarkan modal sebesar Rp3.750.000.

Hasilnya, produktivitas padi terbukti meningkat signifikan atau mencapai 12 ton gabah kering giling (GKG) atau meningkat dari produktivitas panen petani di persawahan itu berkisar delapan ton per hektare. Hasil penen 12 ton GKP tersebut setara Rp86 juta.

Untuk mencapai hasil panen maksimal, menurut Dia, pemupukan padi tidak boleh terlambat.

"Setelah padi ditanam 14 hari harus ada pemupukan  pertama NPK 50% dan Urea 25%," ujarnya.

Selanjutnya, setelah padi berusia 24-30 hari dilanjutkan pemupukan kedua dengan komposisi yang sama, sedangkan pada usia 35 hari, hanya dilakukan pemupukan dengan urea 50%.

Saat ini, stok pupuk urea di gudang PT Pupuk Kaltim di Kupang berjumlah 2.945 ton disimpan di dua gudang, sedangkan stok pupuk untuk wilayah Flores disimpan di gudang di Reo, Kabupaten Manggarai sebanyak

Menurut Didik Trionoe, stok urea di Reo juga disimpan di dua gudang yakni 38,45 ton dan 484,75 ton.

"Saat ini, kapal dalam pelayaran mengangkut pupuk sebanyak 3.088 ton ke Kupang dan 1.320 ton ke gudang di Reo," ujarnya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya