Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
SERANGAN hama wereng cokelat semakin parah menggerogoti sawah di Provinsi Aceh. Hama berbahaya yang pertengahan bulan lalu (Januari) menyerang Kabupaten Aceh Utara, sekarang sudah menyebar ke Kabupaten Pidie.
Serangan hama yang paling ditakuti petani tersebut semakin meluas diduga karena kurangnya perhatian dari Dinas Pertanian Provinsi Aceh. Apalagi tidak ada penanganan intensif atau pergerakan menyeluruh untuk pnasmian hama.
Amatan Media Indonesia di Kabupaten Pidie, misalnya, serangan hama wereng paling parah terjadi di 8 kecamatan. Yakni di Kecamatan Geulumpang Baro, Kembang Tanjung, Simpang Tiga, Mutiara, Mutiara Timur, Lampoh Saka, Indrajaya dan Keumala.
Sekitar 200 hektare lahan sawah berumur 3 bulan dan siap panen di kabupaten itu sudah terinfeksi serangan hama berwarna cokelat tersebut.
Baca juga: Penggunaan ADD masih Diwarnai Bukti Fiktif
"Dalam tempo empat hari saja hampir setengah hektare tanaman padi habis digasak hama wereng. Batang padi yang telah kena serangan langsung mengering seperti jerami" kata Abdullah, petani di Kecamatan Geulumpang Baro, Kamis (7/2).
Adapun di Kecamatan Indrajaya, hama wereng itu sejak empat hari terakhir telah menyerang tanaman padi berumur sekitar 3 bulan di kawasan Desa Gampoeng U.
Untuk mencegah serangan tidak meluas petani telah menyemprot racun pertisida. Sayangnya populasi hama tersebut sangat mudah muncul di lahan petani sekitar.
"Sangat khawatir, tidak ada petugas penyuluh atau pihak Dinas Pertanian Perkekunan Aceh yang turun ke lokasi. Tidak tahu harus minta batuan pada lembaga mana lagi untuk menangani perihal ini" kata Maimun, pemerhati pertanian di Provinsi Aceh.
Sebelumnya, sekitar pertengahan Januari lalu, ratusan hektare lahan sawah di Kecamatan Matangkuli, Kabupaten Aceh Utara, turun hasil produksi. Pasalnya, lahan sawah milik mereka digasak hama wereng.
"Segala kemampuan telah berusaha mengatasi, tapi tidak berhasil sehingga hasil produksi yang biasanya 7 ton per ha, turun menjadi 4 ton per ha," kata Razali, tokoh masyarakat Desa Aron Pirak, Kecamatan Matangkuli. (OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved