Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
BUPATI Klaten, Sri Mulyani, menegaskan tidak ada serbuan beras impor di Klaten. Sementara itu, Klaten sebagai lumbung padi surplus beras 131.188 ton pada 2018.
"Jadi, tidak benar ada serbuan beras impor di Klaten," ujarnya saat melakukan sidak kegiatan usaha penggilingan padi di Desa Kepanjen, Delanggu, Rabu (16/1).
Menurut Bupati Sri Mulyani, Klaten tidak butuh beras impor karena, hasil produksi beras daerah ini sudah mencukupi kebutuhan masyarakat, bahkan surplus beras.
"Lihat saja, pada 2018 produksi gabah mencapai 431.359 ton atau 259.291 ton setara beras dan konsumsi 125.103 ton, sehingga, Klaten surplus beras 131.188 ton," jelasnya.
Perlu diketahui, bahwa luas sawah di Klaten 30.514 hektare. Sedangkan luas panen tahun lalu mencapai 74.372 hektare, dengan produktivitas 5,8 ton per hektare.
Baca juga: 1.200 Ton Beras Medium Digelontorkan untuk Stabilisasi Harga
Saat ini, petani menikmati hasil panen padi. Hal itu dipengaruhi harga gabah kering panen (GKP) yang tinggi. Di tingkat petani, harga GKP Rp5.600-Rp5.700 per kilogram.
Harga beras di pasar, kata Sri Mulyani, juga stabil. Untuk harga beras kualitas premium Rp10.300 per kilogram dan beras medium Rp9.600 per kilogram.
Sementara itu, Hardjono, ketua Kelompok Tani Makmur Desa Kepanjen, Delanggu, juga dengan membantah bahwa tidak benar kalau Klaten diserbu beras impor.
"Kalau ada yang mengatakan, bahwa Klaten diserbu beras impor hingga petani resah, jelas itu tidak benar," ujar petani yang juga pelaku usaha penggilingan padi tersebut.
Saat ini, petani di Klaten diuntungkan dengan harga gabah yang tinggi. Betapa tidak! Gabah kering panen (GKP) laku dijual di atas Rp5.000 atau di atas HPP Rp3.700 per kilogram. (OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved