Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
ROBOHNYA jembatan Kali Genteng yang menghubungkan antardaerah di Kecamatan Kandangserang, Kabupaten Pekalongan menimbulkan kesulitan warga sepuluh desa. Warga harus memutar hingga 30 kilometer untuk menuju kota.
Akibat robohnya jembatan yang dibangun pada zaman Belanda ini, akses warga di sepuluh desa menuju ke kota kecamatan juga terputus. Seperti yang dialami Desa Bojongkoneng, Loragung, Bubak, Garungwiyoro, karanggondang, Gembong, Sukoharjo, Trajumas, Bodas, dan Klesem. Pemkab Pekalongan siapkan armada untuk memperpendek jarak dan membantu warga.
Pemantauan Media Indonesia, Kamis (13/12), ribuan keluarga di sepuluh desa di Kabupaten Pekalongan mengalami kesulitan. Robohnya jembatan di atas Kali Genteng pada Rabu (12/12) petang menjadikan mereka harus menempuh perjalanan hingga 30 kilometer untuk menuju ke kota terdekat. Padahal biasanya dengan adanya jembatan itu, jarak tempuh ke kota terdekat hanya sekitar 5 kilometer.
Jembatan darurat kayu yang dibangun hingga dini hari tadi, hanya mampu untuk menyeberang pejalan kaki. Akibatnya kendaraan roda dua dan empat terpaksa harus memutar hingga 30 kilometer.
Baca juga: KPU Bangli Gelar Kursus Kepemiluan Sasar Pemilih Pemula
Untuk mengatasi kesulitan warga terutama pelajar dan pekerja di luar desa, Pemkab Pekalongan melalui organisasi perangkat daerah (OPD) yang ada, kecamatan, Polsek dan Koramil setempat menyiapkan armada di ujung jembatan yang putus.
"Warga yang akan beraktivitas ke luar seperti sekolah atau kerja kita estafet dengan penyiapkan armada angkutan," kata Kepala Polsek Kandangserang Inspektur Agus Supriyono.
Seperti diberitakan mediaindonesia.com, Rabu (12/12) malam, hujan lebat yang mengguyur kawasan Pekalongan sejak beberapa hari ini mengakibatkan volume Sungai Genteng, Kecamatan Kandangserang meningkat tajam. Gerusan air yang cukup deras ini menjadikan pondasi jembatan ambrol hingga tak kuat menopang jembatan dan akhirnya roboh.
Ironisnya jembatan baru yang dibangun di sebelahnya sejak 2017 dengan anggaran Rp6,3 miliar belum selesai dikerjakan. Hal itu mengakibatkan jalur transpotasi transpotasi antardaerah seperti Pekalongan, Banjarnegara dan Pemalang juga terputus.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pekalongan, Bambang Sujatmiko, mengatakan untuk sementara dibangun jembatan darurat dengan memanfaatkan pondasi dan pilar jembatan baru yang belum selesai dibangun untuk mengantisipasi kesulitan warga.
Namun karena jembatan darurat dari kayu tersebut berukuran kecil, lanjut Bambang, jembatan hanta dapat dilalui pejalan kaki dan tidak mampu menopang kendaraan roda dua seperti yang direncanakan.
"Kita persiapkan armada di setiap ujung jembatan untuk mengestafet warga yang berjegiatan di luar," imbuhnya. (OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved