Mendengar Jeritan Dunia Pariwisata Bali dan Lombok di Tengah Cobaan Alam
Ghani Nurcahyadi
09/11/2015 00:00
(ANTARA/Nyoman Budhiana)
Para pelaku pariwisata betul-betul pintar menyembunyikan raut wajah kegalauannya. Mereka tetap cool, sabar, penuh canda, kaya cerita, tampil tegar dan menyenangkan, tatkala bencana datang silih berganti.
Dari erupsi bersama Gunung Raung, Gamalama, Sinabung yang merusak jadwal kunjungan ke Bali, Lombok, Banyuwangi, Surabaya, lalu disusul asap yang menutup pulau Sumatra-Kalimantan. Kini giliran anak Rinjani yang batuk-batuk.
Namanya Gunung Barujari, 'bisul kecil' yang tumbuh di sisi timur kaldera Rinjani yang memilik kawah 170 x 200 meter, di ketinggian 2.296-2.376 meter dari permukaan laut.
Bisul muda itu selama ini sangat aktif, melepas dahak-dahak vulkanik ke udara. Sejak 1944, 1966, 1994, sampai di era 2000-an, Mei 2009, 25 Oktober 2015, 3 November 2015 dan saat ini.
Tim Crisis Center Kemenpar mencatat, sejak Sabtu 7 November lalu aktivitas Barujari terus meningkat, tremor dengan amplitude maksimum 55 mm, lebih tinggi dari hari-hari sebelumnya yang berada di kisaran 48 mm, dengan tinggi semburan sampai 2.500 meter.
Apa yang terjadi? Bandara Internasional Lombok (BIL) sudah hampir pasti tutup. Jika ada angin ke barat, Bandara Ngurah Rai Bali pun tak bisa beroperasi. Turis yang sudah di Bali tak bisa pergi, tak bisa terbang.
"Turis yang sudah dijadwalkan masuk ke Pulau Dewata batal terbang, Baik wisman maupun wisnu menjerit semua, sedih, kecewa, marah, tapi mau berkeluh kesah kepada siapa? Kejadian alam tak ada yang bisa menolak?†ujar Anak Agung Yuniarta Putra, Kepala Dinas Pariwisata Bali.
''Kami hanya bisa berdoa, bersujud pada sang pencipta, semoga bencana ini segera reda, dan suasana kembali normal. Seperti Anda ketahui, kami bersama Kementerian Pariwisata sedang gencar-gencarnya promosi di seluruh dunia, dan Great Bali menjadi salah satu lokomotifnya. Saat ini sudah mendekati peak season akhir tahun, kami sedih, yang datang bukan wisatawan, tapi bencana,'' aku Anak Agung dengan raut mendung.
Kegalauan Anak Agung itu sangat bisa dimengerti. Bagaimana tidak? Bali itu rata-rata 10.000 wisman setiap hari, Bali adalah pintu masuk terbesar, 40% dari wisman nasional. Bali paling dikenal, bahkan di Eropa-Amerika, lebih tersohor daripada Indonesia. Bali adalah hub, bagi pariwisata nasional, tempat landing sebelum mereka terbang ke berbagai sisi lain keindahan Indonesia.
Bulan Agustus 2015, ketika Gunung Raung “meraung-raung†menyebar debu erupsi ke 360 penjuru mata angin, Bali sudah terpukul. Ibarat bermain tinju, sudah TKO (technical knock out). Hampir tiga minggu, bandara buka tutup dan lebih banyak tutupnya, dan langsung menurunkan jumlah kunjungan 11% di Pulau titisan Dewata yang kental dengan kulturnya itu.
''Sebagai orang pemerintahan, kami sangat terpukul, target kami terganggu. Dan kalau Bali tidak tercapai, nasional pasti terkena imbasnya. Kami tak enak hati dengan Pak Menpar Arief Yahya, yang concern mengurus promosi Bali,'' ungkap Anak Agung.
Dulu saat Gunung Raung melepas banyak partikel abu vulkanik, terjadi di saat peak season tengah tahun. Saat industri pariwisata panen, menuai rezeki dari kegiatan promosi selama 6 bulan. Gagal. Kini, menjelang liburan akhir tahun, situasi itu seperti pengulangan yang sempurna.
''Di saat industri panen, eh, ternyata erupsi gunung Barujari? Sementara tahun ini tinggal 2 bulan saja kurang? Sulit bagi kami mengejar target yang dicanangkan Pak Menpar. Alam itu tidak mudah diutak-atik, sementara akses menuju Bali masih terganting flight, dan safety regulation tidak memungkinkan menerobos debu vulkanik gunung,'' jelas dia.
Dispar Bali, PHRI, Angkasa Pura I, dan Kementerian Pariwisata memang sudah antisipasi dengan mengaktifkan kembali Crisis Center di Bandara Ngurah Rai. Menyiapkan bus-bus, bagi mereka yang mau overland ke Surabaya dan Banyuwangi. Menghibur para wisman yang batal terbang, dan terdampar di Bandara dengan musik. “Termasuk melobi PHRI untuk memberi diskon khusus dan complimentary kepada wisman yang betul-betul terjebak erupsi,†aku Anak Agung, yang merasakan aktivitas Tim Crisis Center itu terus dipandu Menpar.
Tim peduli wisatawan yang dinamai Crisis Center ini, baru kali ini menjadi teman yang bisa berempati dengan kebutuhan wisatawan. Bentuk soft campaigne yang simpatik, yang membuat wisatawan tidak merasa lonely, tidak kesepian, tidak ketakutan, tidak kehilangan harapan, tidak larut dalam kesuntukan.
''Kami sangat terbantu oleh keberadaan Tim Crisis Center itu,'' jelas Anak Agung. (R-1)