Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Kekeringan di Tuban Berlanjut, Warga Terpaksa Beli Air

M Yakub
09/11/2015 00:00
Kekeringan di Tuban Berlanjut, Warga Terpaksa Beli Air
(Ilustrasi---ANTARA/Dedhez Anggara)
KEKERINGAN yang melanda sejumlah kawasan di Kabupaten Tuban, Jatim, terus berlanjut. Kondisi tersebut disebabkan karena mengeringnya ratusan sumur tradisional milik warga. Warga terpaksa membeli air dan sebagian lainnya memilih memperdalam sumurnya dengan biaya pribadi.
   
"Kami terpaksa memperdalam sumur dengan ngebor lagi," terang Sukarjo, warga Desa Menilo, Kecamatan Soko, kepada Media Indonesia, Senin (9/11) pagi.
   
Menurut dia, tidak hanya sumur miliknya yang mulai mengering akibat kemarau panjangbeberapa bulan terakhir namun, puluhan sumur warga lainnya juga debit airnya makin menipis. Jika tidak segera diperdalam, lanjut dia, bisa dipastikan air makin sulit didapat dari sumur tersebut. "Saat ini saja, air yang keluar tersendat-sendat. Bahkan, terkadang tidak keluar sama sekali," tambahnya.
   
Dikatakan, untuk memperdalam sumur itu, warga terpaksa mengeluarkan biaya pribadi. Sedangkan, bagi sumur yang biasanya dipergunakan kelompok masyarakat dalam jumlah besar diperdalam secara gotong royong.  Misalnya, untuk sumur keduk (sumur tradisional galian), dilakukan penggalian bersama.
   
Ia menjelaskan permukaan air pada sumur milik warga kampungnya yang berlokasi di bantaran Bengawan Solo juga makin mengalami penurunan. Ini seiring makin menurunnya permukaan sungai Bengawan Solo secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
   
Di Desa Ngandong, Kecamatan Grabakan, krisis air bersih juga dialami ribuan warga setempat. Meski telah beberapa kalai mendapatkan bantuan air bersih dari pemkab setempat, warga masih kekurangan air bersih. Sebab, bantuan dari pemkab itu terbatas sehingga, tidak mencukupi kebutuhan warga sekitar. Apalagi, jumlah warga yang membutuhkan air bersih mencapai ribuan jiwa. Untuk menutupi kekurangan itu, warga terpaksa membeli air.

Biasanya, air dibeli dari pedagang yang sengaja mengambil air bersih dari sumber mata air Ngerong di Desa Rengel di kaki bukit. "Biaya untuk beli air per hari bisa Rp10.000," kata Suminten, warga setempat.
   
Menurut dia, untuk jerigen ukuran 30 liter dihargai sebesar Rp1.000. Sedangkan, kebutuhan air setiap harinya warga rata-rata 10 jerigen. Sehingga, setiap hari warga harus menyiapkan uang sebesar Rp10.000 untuk keperluan membeli air. Jumlah itu, terang dia, belum termasuk untuk keperluan minum ternak. "Ya, itu hanya untuk kebutuhan rumah tangga, kalau ditambah untuk keperluan ternak makin banyak," jelasnya.

Data dari kantor desa setempat menyebutkan ada sebanyak 3.508 keluarga di Desa Ngandong yang mengalami krisis air bersih. Hal ini karena, puluha sumur tradisional milik warga mongering akibat kemarau panjang.

Biasanya, warga Desa Ngandong mendapatkan jatah kiriman air dari Pemkab Tuban. Di antaranya, melalui BPBD, Palang Merah Indonesia (PMI) Tuban, dan dari berbagai pihak lainnya. Namun, kiriman itu juga terbatas sehingga, warga berinisiatif membeli air.
   
Warga berharap, pemerintah memberikan solusi nyata untuk penanggulangan bencana kekeringan yang tiap tahun melanda kampung halamannya. Hal ini agar, persoalan krisis warga tidak membuat keresahan tahunan.  Mereka juga berharap, hujan segera turun di kawasannya air krisis air bersih bisa teratasi. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya