Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
SEJUMLAH desa di Kecamatan Cikadu, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, rawan berpotensi bencana hidrometeorologi bersamaan tingginya intensitas curah hujan. Termasuk kerawanan longsor di ruas-ruas jalan yang terdapat banyak tebing.
"Selain Desa Cikadu, wilayah lain yang rawan longsor berada di Desa Mekarlaksana, Cigugur, Cimuncang, dan Cisaranten," kata Camat Cikadu, Wodi Efyana, kepada Media Indonesia, Minggu (18/11).
Saat ini di beberapa titik ruas jalan rawan longsor sudah disiapkan alat berat, sehingga jika terjadi tanah longsor bisa cepat dalam penanganannya.
"Beberapa titik ruas jalan yang rawan longsor itu milik provinsi. Jadi di sana sudah disiapkan alat berat dari provinsi. Alat beratnya selalu stand by," ucapnya.
Akhir pekan lalu bencana longsor menerjang Kampung Cigerenem dan Kampung Cisalada di Desa Cikadu. Dua rumah milik Badru dan Titi rusak berat. Pascalongsor, wilayah tersebut sekarang dilanda pergerakan tanah.
Hasil pendataan di lapangan terdapat 37 unit rumah termasuk dua bangunan sekolah terancam pergerakan tanah. Kurun tiga hari pascalongsor, sejak Sabtu (10/11) hingga Minggu (12/11), tanah terus bergeser hingga 0,5 meter setiap harinya.
"Setiap hari tanah bergeser sekitar setengah meter. Pergeseran cukup parah terjadi sejak Sabtu hingga Senin lalu," ucapnya.
Baca juga: Koalisi Masyarakat Sipil Tolak Pembukaan Jalan Tambang di Hutan Harapan
Pihak kecamatan menyiapkan satu rumah yang sewaktu-waktu bisa digunakan warga sebagai tempat mengungsi sementara. Bahkan 14 kepala keluarga warga Kampung Cisalada sudah mulai mengungsi sementara.
"Kalau siang masyarakat masih beraktivitas seperti biasa. Tapi kalau malam apalagi turun hujan, kami sudah imbau agar mengungsi sementara ke tempat lebih aman," jelasnya.
Sementara dua sekolah yang terancam pergerakan tanah yakni SDN Cigerenem dan SMKN 1 Cikadu. Namun kedua bangunan sekolah masih bisa digunakan meskipun diimbau selalu waspada.
"Tapi dindingnya sudah mulai retak," ucapnya.
Wodi sudah melaporkan kerusakan akibat bencana itu ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur. Wodi mengatakan wilayah yang terjadi pergeseran tanah saat ini di Desa Cikadu dulunya punya historis kejadian serupa. Menurut dia, pergeseran tanah sebelumnya terjadi sekitar 15 tahun lalu.
"Kami sudah koordinasi dengan Pemkab Cianjur melalui BPBD. Solusinya kemungkinan ada rencana direlokasi. Cukup rentan juga kalau tak direlokasi. Terutama saat terjadi hujan deras," pungkasnya. (OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved