Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

100 Tahun Monumen Pers Pacu Semangat Wartawan Milenial

Ferdinand
26/10/2018 16:20
100 Tahun Monumen Pers Pacu Semangat Wartawan Milenial
(Ferdinand/FR )

MONUMEN Pers Nasional di Kota Surakarta, Jawa Tengah, tidak hanya menyimpan peralatan dan produk jurnalistik dari masa lalu hingga sekarang. Di gedung yang dulu bernama Societeit Mangkunegaran itu juga terhimpun semangat para wartawan pendahulu yang layak dijadikan teladan jurnalis milenial.

Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Rosa Niken Widyastuti melontarkan hal itu saat membuka Seminar Nasional Seabad Gedung Societeit Mangkunegaran, Tonggak Perjuangan Pers Merajut Kebhinekaan dan Menegakkan Pancasila di Kota Surakarta,  Jumat (26/10).

Gedung yang dibangun atas prakarsa KGPAA Sri Mangkunegoro VII pada tahun 1918 itu menjadi saksi ketika Adam Malik, R Maladi, Abdurahman Saleh, Sarsito Mangunkusumo, Tan Malaka, Bung Tomo, dan lain-lain menyerukan perjuangan untuk merdeka dari penjajahan.

Monumen yang kini berusia 100 tahun itu juga menjadi tempat lahir organisasi profesi kewartawanan pertama, yakni Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 9 Februari 1946.

"100 tahun Monumen Pers ini merupakan momentum yang bagus untuk menyerap semangat para wartawan yang berjuang dan mengisi kemerdekaan pada masa-masa awal. Roh 100 tahun Monumen Pers harus jadi semangat wartawan sekarang," kata Rosa.

Semangat wartawan pendahulu untuk merajut persatuan dalam kebinekaan, memperjuangkan dan mempertahankan keutuhan Indonesia itu perlu mengalir pada wartawan saat ini.  Ketika negara dalam dinamika yang sangat tinggi dan setiap detik informasi masuk ke gawai, pada saat itulah wartawan harus memainkan perannya.

Senetral-netralnya wartawan, kata Rosa, dia tetap harus berpihak kepada kebenaran dan kesatuan negara. Hal itu dilakukan dengan selalu melakukan cek fakta. Apalagi saat ini sedang marak penyebaran hoaks, konten radikalisme, dan intoleransi.

"Peran wartawan sangat penting untuk menyatukan polarisasi masyarakat. Hoaks sangat berbahaya karena dapat memicu kemarahan dan kebencian, sehingga tidak ada kerukunan," kata Rosa. (A-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya