Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
JAWA Tengah kekurangan suplai kedelai kendati produktivitas kedelai provinsi tersebut meningkat jika dibandingkan dengan tahun lalu. Pasokan kedelai tercatat masih kurang 219 ribu ton.
Minat petani untuk menanam kedelai sangat rendah akibatnya untuk mencukupi kebutuhan kedelai, Jateng masih bergantung pada impor.
Demikian disampaikan Kepala Bidang Ketersediaan dan Kerawanan Pangan, Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah, Sadi, di Temanggung, Selasa (9/10).
"Minat petani tanam kedelai masih sangat kurang, soalnya risikonya tinggi, banyak penyakit, jadi kebutuhan kedelai Jateng masih kurang sekitar 219 ribu ton," terang Sadi.
Selama ini, kebutuhan kedelai Jateng dipasok dari daerah sentra kedelai seperti Grobogan, Wonogiri, Purworejo, dan Banyumas. Rata-rata produktivitas kedelai antara 1,4 ton-1,5 ton per hektare. Paling tinggi dari Grobogan yang mencapai 1,6 ton per hektare.
"Produktivitas ini meningkat dari tahun lalu yang rata-rata di kisaran 1,3 - 1,4 ton per hektare. Tapi memang masih kurang, jadi masih sangat tergantung impor," ungkap Sadi.
Secara keseluruhan, menurut Sadi, produksi kedelai dari Pulau Jawa mencapai 105 ribu ton. Produksi kedelai dari Jateng 99 ribu ton per tahun, 51% disuplai dari Grobogan. Namun, kebutuhan kedelai di Jateng mencapai 319 ribu ton.
Harga kedelai berdasarkan rekomendasi Kementerian Perdagangan sebesar Rp8.500 per kg. Meski begitu, realisasi di pasaran hanya di kisaran Rp8.000 per kg. Hal itu disebabkan hasil panen kedelai banyak yang menghitam terkena penyakit.
"Iklimnya di sini juga kurang mendukung untuk tanam kedelai. Kebanyakan petani lebih suka tanam kacang hijau karena harga di pasaran juga bagus, bisa Rp14 ribu per kg," tuturnya. (A-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved