Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Penyebab Tsunami di Luar Kelaziman

Dhika Kusuma Winata
01/10/2018 07:40
Penyebab Tsunami di Luar Kelaziman
DAMPAK TANAH BERGERAK: Foto dari udara sebuah perkampungan yang porak-poranda akibat pergeseran tanah di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, kemarin. Fenomena tanah bergerak atau likuifaksi tersebut terjadi akibat adanya getaran gempa.(MI/SUSANTO)

TSUNAMI yang meluluhlantakkan Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah, pascagempa bumi berkekuatan 7,4 pada skala Richter, Jumat (28/9), dinilai di luar kelaziman.

Tsunami biasanya dipicu tumbukan antarlempeng. Namun, di kedua daerah itu tsunami terjadi karena pergeseran lempeng (lateral sliding).

Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sukmandaru Prihatmoko mengatakan hal itu di Jakarta, Sabtu (29/9).

"Ada beberapa kemungkinan yang terjadi (pergeseran lempeng)," ungkap Sukmandaru. Pertama, kata dia, gerakan mendatar menyebabkan longsoran tebing di bawah laut dan memicu tsunami.

Kedua, gerakan patahan memicu bergeraknya sesar naik (thrust) yang ada di sekitar sesar Palu Koro. Ketiga, ada flower structure (struktur penyerta pada sesar) yang terkait dengan sesar Palu Koro.

Sesar Palu Koro, lanjutnya, ialah sesar aktif dan terbesar di Indonesia. "Banyak sekali titik rawan gempa di Sulawesi. Gempa kali ini akibat aktivitas sesar Palu Koro yang gerakannya saling menggeser," jelas Sukmandaru.

Dia bersama sejumlah ahli geologi Indonesia lainnya tergabung dalam Tim Ekspedisi Palu Koro tengah merampungkan riset kegempaan di wilayah Sulawesi. Dengan mengutip sejumlah riset yang pernah ada, Sukmandaru mengatakan sesar Palu Koro tergolong aktif jika dilihat dari catatan sejarahnya. Gempa hebat pernah terjadi pada 1907 dengan kekuatan 7,7 SR. Panjang sesar Palu Koro ini sekitar 500 km (lihat grafik).

Mitigasi bencana

Ketua Tim Ekspedisi Palu Koro, Trinirmalaningrum, mengatakan kerawanan Indonesia dalam hal gempa tak terelakkan. Hal itu kian menegaskan bahwa mitigasi dan antisipasi bencana amat dibutuhkan. Gempa hebat di Donggala, juga di Lombok beberapa waktu lalu, sambungnya, menjadi pelajaran yang amat berharga.

"Investasi terhadap mitigasi bencana minim. Selama ini upaya soal kebencanaan hanya fokus pada penanganan pascabencana," tuturnya.

Di tempat terpisah, Deputi Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam (TPSA) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza mengatakan bencana seperti di Donggala dan Palu bisa diminimalkan, baik dari segi kerusakan maupun korban jiwa.

Hingga kini, kata dia, pemerintah masih disibukkan upaya penanganan pascagempa. "BPPT memiliki berbagai teknologi yang siap digunakan untuk mengantisipasi bencana gempa bumi serta tsunami," kata Hammam.

BPPT pun, lanjutnya, mengawali program buoy Indonesia tsunami early warning system (Ina-TEWS) untuk peringatan dini tsunami. Setelah itu, lembaga itu membuat multi-hazard early warning system (MHEWS) untuk mendeteksi gempa dan tsunami.

"Ke depan sinergi yang kuat antarpemangku kepentingan untuk menggunakan teknologi. Teknologi mampu mengurangi risiko bencana gempa bumi," tegasnya.

Terkait dengan hal itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Tasikmalaya, Jabar, Wawan R Effendi, mengatakan sepanjang pantai selatan Cipatujah belum ada pemasangan alat pendeteksi tsunami.

"BPBD bertahun-tahun mengajukan alat pendeteksi tsunami ke pemda dan pusat, tetapi belum ada realisasi," katanya, kemarin.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kabupaten Pangandaran, Jabar, Nana Ruhena, mengatakan idealnya daerahnya memiliki 200 alat pendeteksi longsor, banjir, dan tsunami. "Kami hanya memiliki 14 alat pendeteksi bencana, itu pun rusak," ujarnya. (Nda/AD/BB/YH/RF/X-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya