Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
EMPAT kecamatan di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, terendam banjir setelah diguyur hujan deras dan luapan sungai sejak empat hari terakhir. Keempat kawasan yang terendam itu meliputi Kecamatan Lhoksukon, Cot Girek, Pirak Timu, dan Kecamatan Matangkuli.
Sedikitnya ada tiga sungai yang meluap, yaitu Sungai Krueng Peutoe di Kecamatan Lhok Sukon, Sungai Keureutoe di Kecamatan Matangkuli dan Sungai Pirak yang membelah Kecamatan Matangkuli dan Kecamatan Pirak Timu.
Di Lhoksukon, banjir merendam permukiman Desa Meunasah Rayeuk, Meucat, Meunasah Jok, Meunasah Nga, Babah Geudeubang, Meunasah Krueng, Dayah, Kumbang, Buloh dan Gampoeng Geulumpang.
Puluhan rumah warga Desa Kumbang, Lhok Sukon, terendam berkisar 50 setengah hingga 1 meter. Pasalnya, tanggul Sungai Krueng Peutoe jebol setelah dihantam air bah pada Senin (24/9) dan Kamis (27/9).
Sekitar 500 meter jalan yang menghubungkan Kecamatan Lhoksukon-Cot Girek ikut terendam. Arus lalulintas antarkedua kecamatan sempat terhambat oleh ketinggian air yang mencapai 60 cm.
Pada Kamis (27/9) siang, banjir juga mulai merembes ke Kota Lhok Sukon, ibu kota Kabupaten Aceh Utara. Bahkan sebagian toko dan tempat penjualan di kota tersebut telah dimasuki air bercampur lumpur.
Lalu di Kecamatan Matangkuli, banjir terparah terjadi di Desa Lawang, Hagu, Tanjung Haji Muda, Tangjung Tengku Kari dan Desa Alue Tho. Akibat rumah mereka terendam hingga 1,5 meter, warga Desa Lawang harus mengunsi ke tannggul irigasi.
"Ini lokasi langganan banjir di Matangkuli. Setiap musim penghujan desa ini terendam hingga 12 kali," kata Abdullatif, tokoh masyarakat Matangkuli, kepada Media Indonesia, Kamis (27/9).
Untuk menghindari kemungkinan buruk, sebagian tiga sekolah di kawasan banjir harus diliburkan, di antaranya adalah SMP Negeri 4 Lhok Sukon, SD Negeri 9 Lhok Sukon dan SMP Negeri 2 Cot Girek. Dikhawatirkan, bila hujan terus berlanjut aktivitas warga terus tergangu.
Berdasarkan Media Indonesia, banjir Aceh Utara dipacu oleh kerusakan hutan sangat parah di kawasan hulu sungan dan perbukitan setempat. Misalnya, hutan perbukitan kawasan Makam Cut Meutia, Kecamatan Cot Girek.
Saban hari terjadi pembalakan liar sehingga kondisi hutan setempat rawan gundul dari pepohonan besar. Puluhan sepeda motor didesain khusus untuk mengangkut kayu dari lokasi itu ke kilang-kilang terdekat. Aksi merusak hutan dan lingkungan tersebut sudah
berlangsung sekitar sepuluh tahun terakhir.
"Kelauan tukang balak itu seperti tidak terusik atau terbiarkan. Ini mungkin karena ada toke dan pihak tertetu yang ikut terlibat. Semua jaringan itu menikmati hasil kayu ilegal" kata Abdullah, tokoh masyarakat Pirak Timu. (A-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved