Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBANYAK 31.821 jiwa di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, terdampak kekeringan. Mereka mengalami krisis air bersih sejak beberapa bulan terakhir bersamaan memasukinya musim kemarau.
"Hasil pendataan di lapangan, warga yang terdampak kekeringan itu berasal dari 11.463 kepala keluarga," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sukabumi, Usman Jaelani, Rabu (15/8).
Berdasarkan laporan yang diterima BPBD setempat, kekeringan di Kabupaten Sukabumi terjadi di 91 kampung tersebar di 29 desa di 13 kecamatan. Kebutuhan di setiap wilayah berbeda-beda.
"Ada yang membutuhkan penyaluran air bersih, ada yang memutuhkan torn (bak penampung air), ada juga yang membutuhkan pipa sebagai alat penyalur dari sumber air ke permukiman warga. Kebutuha itu berdasarkan pengajuan tertulis dari aparatur desa dan kecamatan setempat kepada kami," jelas Usman.
Ketigabelas wilayah yang terdampak kekeringan di Kabupaten Sukabumi terdiri dari Kecamatan Gunungguruh, Kabandungan, Waluran, Cikakak, Cibadak, Palabuhanratu, Lengkong, Warungkiara, Bantargadung, Parungkuda, Cikembar, Ciambar, dan Gegerbitung.
Di Kecamatan Gunungguruh wilayah yang terdampak sebanyak 3 desa, di Kecamatan Kabandungan 1 desa, di Kecamatan Waluran 2 desa, di Kecamatan Cikakak 2 desa, di Kecamatan Cibadak 1 desa dan 1 kelurahan, di Kecamatan Palabuhanratu 2 desa, di Kecamatan Lengkong 4 desa.
Kemudian di Kecamatan Warungkiara 1 desa, di Kecamatan Bantargadung 3 desa, di Kecamatan Parungkuda 2 desa, di Kecamatan Cikembar 1 desa, di Kecamatan Ciambar 4 desa, dan di Kecamatan Gegerbitung 2 desa.
"Dari 13 kecamatan yang terdampak kekeringan, beberapa di antaranya sudah kami tangani dengan menyalurkan bantuan air bersih. Ada enam desa tersebar di enam kecamatan yang kami bantu distribusi air bersih," tuturnya.
Wilayah terdampak kekeringan kemungkinan jumlahnya akan bertambah. Perkiraan itu tak terlepas hingga kini belum kunjung turun hujan.
"Bisa jadi data wilayah yang terdampak kekeringan terus bertambah melihat kondisi sekarang. Tapi mudah-mudahan hujan bisa segera turun," ujarnya.
Sebelumnya Pemerintah Kabupaten Sukabumi sudah menetapkan status siaga darurat kekeringan. Penetapannya diberlakukan mulai 6 Agustus hingga 31 Oktober 2018.
"Penetapan status siaga darurat bencana berlaku selama tiga bulan," kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sukabumi, Maman Suherman, kepada Media Indonesia.
Di Kabupaten Sukabumi, kata Maman, hingga saat ini wilayah yang terdampak musim kemarau dilaporkan terjadi di sejumlah kecamatan. Di wilayah tersebut terjadi krisis air bersih bagi masyarakat serta minimnya pasokan air untuk kebutuhan lahan persawahan.
"Wilayah yang terdampak musim kemarau tersebar di sejumlah titik," tandasnya. (OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved