Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Dilanda Kekeringan, Ratusan Warga Jarang Mandi

Benny Bastiandy
14/8/2018 13:20
Dilanda Kekeringan, Ratusan Warga Jarang Mandi
(MI/Benny Bastiandy)

SEJUMLAH warga Kampung Leuweung Datar, Desa Sukasirna, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, terpaksa jarang mandi akibat krisis air bersamaan kekeringan hampir dua bulan terakhir. Debit air sumur di hampir semua rumah warga sudah mengering. Kalaupun ada, airnya dalam kondisi keruh.

"Iya, sudah jarang mandi sejak beberapa bulan ini karena airnya nggak ada," kata Ijah Khodijah, 62, warga setempat, Selasa (14/8).

Ijah merupakan satu di antara warga Kampung Leuweung Datar yang kesulitan mendapatkan air bersih saat kekeringan seperti sekarang. Ia dan warga lainnya harus berjibaku mencari mata air meskipun jarak yang harus ditempuh cukup jauh.

"Biasanya nyari air di (perkebunan) sawit. Cukup jauh. Ada sekitar 2 kilometer berjalan kaki. Adanya di Kampung Baros," ucapnya.

Relatif jauhnya jarak tak menyurutkan Ijah dan warga lainnya datang ke tempat itu. Utamanya ia mencari sumber air untuk keperluan minum dan masak.

"Tapi tidak setiap hari karena capek harus bolak-balik. Makanya jarang mandi. Paling saya nampung air untuk minum dan masak," jelasnya.

Ia mengaku kalau memiliki dana, biasanya membeli air bersih yang dijual keliling. Namun ketika tak memiliki uang, ia terpaksa mencari ke lokasi mata air.

"Iya kalau punya uang mah saya beli. Tapi tidak setiap hari punya uang," tandasnya.

Kepala Desa Sukasirna, Deni Riswandi, tak memungkiri kondisi kemarau panjang sekarang berdampak terhadap kerawanan krisis air bersih yang dialami warganya. Di wilayahnya, kekeringan sudah terjadi sejak hampir dua bulan terakhir.

"Di sini terdapat sebanyak 800 kepala keluarga. Kekeringan di sini sudah terjadi hampir tiga bulan. Air sudah mulai sulit dan keruh, sehingga tak bisa digunakan untuk kebutuhan warga," kata Deni, Selasa (14/8).

Biasanya, lanjut dia, warga membeli air bersih seharga Rp2 ribu per jeriken. Namun sekarang, kata Deni, pemerintahan desa setempat memikirkan membuat sumur bor, sehingga ke depan saat kemarau, warga tak terlalu kesulitan.

"Mudah-mudahan bisa segera terwujud pembuatan sumur bor ini," pungkasnya.

Deni mengapresiasi adanya bantuan penyaluran air bersih dari Asia Muslim Charity Foundation (AMCF). Yayasan sosial kemanusiaan itu mendistribusikan sebanyak 5 ribu liter air bagi 800 kepala keluarga.

"Alhamdulillah, bantuan air bersih ini cukup membantu masyarakat yang kesulitan air bersih," tandasnya. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dwi Tupani
Berita Lainnya