Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
KRISIS air bersih mulai menghantui sebagian warga di Jambi. Hal itu menyusul menggeringnya sumur dan macetnya distribusi air bersih dari perusahaan air minum daerah di musim kemarau saat ini.
Keluhan sulitnya mendapatkan sumber air bersih antara lain dikeluhkan warga beberapa wilayah kecamatan di Kabupaten Merangin. Krisis air bersih terparah dialami warga di desa-desa Kecamatan Tabir.
Lantaran sumur mengering, warga terpaksa membeli air galon untuk kebutuhan memasak dan air minum. Namun demi menghemat biaya, untuk mandi dan cuci mereka terpaksa melakukannya di aliran anak Sungai Batang Tabir, yang keruh dan mendangkal.
"Sudah sepekan ini saya dan keluarga terpaksa mandi dan mencuci ke sungai. Air sumur kandas ke dasar, tidak bisa disedot oleh pipa mesin pompa air," ungkap M Roni, warga Rantaupanjang, Kecamatan Tabir.
Warga di beberapa permukiman di Kecamatan Bangko juga mengeluh lantaran sumber air bersih yang mereka andalkan dalam sepekan
terakhir tidak layak minum karena bau dan keruh. Sumber itu didistribusikan oleh perusahaan daerah air minum setempat.
Nasib serupa juga mendera warga sejumlah desa dan kelurahan di Kecamatan Nipahpanjang, Kabupaten Tanjungjabung Timur, yang sebagian
besar selama ini mengandalkan sumber air bersih dari tedmon (tangki penampung) dan bak tampungan air hujan.
Seperti diungkapkan Bujang, 45 tahun, warga RT 02, Kelurahan Nipahpanjanag I, Kecamatan Nipahpanjang, yang terpaksa membeli air bersih seharga Rp10 ribu per jeriken kemasan 30 liter.
"Mahal memang Pak, karena penjual mengambilnya jauh dan menggunakan perahu. Kalau untuk mandi dan mencuci, mau tidak mau terpaksa menggunakan genangan air di kanal-kanal saat air pasang. Kalau saat surut yang ada hanya lumpur," ungkap Bujang.
Kendati belum begitu parah, kesulitan air bersih juga mulai dirasakan warga di daerah permukiman di pinggiran Kota Jambi. Selain akibat
banyak sumur warga mengering, distribusi air bersih dari PDAM Tirta Mayang sepekan belakangan tidak mengalir.
"Yang keluarnya hanya angin saja Bang. Untuk kebutuhan mandi dan memasak, saya membeli air bersih dari pedagang air. Enam puluh ribu
rupiah satu tedmon kapasitas seribu liter. Dimasukkan ke bak mandi dan drum, cukuplah untuk kebutuhan sekitar seminggu," ungkap Rizal, 40, warga Kelurahan Lingkar Selatan, Kota Jambi. (A-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved