Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
PRODUKSI sapi di wilayah Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta, dipastikan tidak dapat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan kurban pada Idul Adha 2018 ini, karena selama ini populasi sapi di kabupaten ini justru menurun.
Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo Nur Syamsu Hidayat, Sabtu (4/8), mengatakan produksi sapi memang cukup tinggi, namun banyak yang dijual ke luar daerah saat masih 'pedet' atau sapi anakan. "Kalau tidak justru sapi siap kawin," ujarnya.
Namun demikian, Nur Syamsu mengatakan pada akhir 2017, populasi sapi potong di Kulonprogo sebanyak 51.047 ekor, dan populasi kambing PE 91.811 ekor. Pada 2011-2013 populasi sapi di Kulonprogo menurun karena terkena dampak impor sapi. Pada tahun itu pula, tambahnya, harga sapi sangat rendah dan peternak menjual sapi mereka karena takut rugi.
Tapi, mulai 2014, populasi sapi kembali menggeliat seiring larangan sapi impor. "Namun hingga saat tidak ada kenaikan populasi yang signifikan," ungkapnya.
Dari 12 kecamatan di Kulonprogo, ada lima kecamatan dengan populasi tertinggi, yakni Sentolo sebanyak 6.143 ekor, Lendah sebanyak 6.122 ekor, Pengasih sebanyak 5.977 ekor, Wates sebanyak 5.934 ekor, dan Panjatan sebanyak 5.678 ekor.
Sementara Kepala Bidang Kesehatan Hewan (Keswan) Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo Drajat Purbadi mengatakan, saat ini sudah dibentuk tiga tim pemantau hewan kurban untuk mengantisipasi adanya hewan kurban yang tidak sehat dan penyakit cacing hati.
Ia mengatakan Tim Pemantau Hewan Kurban (PHK) kabupaten ini melibatkan para dokter hewan, petugas Pos Kesehatan Hewan (Poskeswan), para kader di tingkat desa dan mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Hewan UGM.
"Tim pemantau hewan kurban untuk mengantisipasi hewan kurban yang terserang penyakit seperti cacing hati dan antraks. Mereka akan bertugas untuk memeriksa kesehatan hewan kurban yang ada di tempat penampungan hewan yang tersebar di 12 kecamatan," katanya.
Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmasvet) Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo Hari Suryanto mengambahkan masyarakat di perdesaan masih perlu ditingkatkan pengetahuan dan pemahamannya, mengenai penyembelihan dan penganganan hewan kurban.
Menurut dia, hewan kurban yang akan disembelih harus dalam kondisi sejahtera dan dihindarkan dari stress. "Berdasarkan evaluasi pelaksanaan pemotongan hewan kurban pada tahun-tahun sebelumnya, perlu ada perhatian khusus soal sanitasi di tempat penyembelihan hewan kurban," katanya. (A-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved