Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Medsos Lunturkan Multikulturalisme di Yogyakarta

Agus Utantoro
02/8/2018 14:25
Medsos Lunturkan Multikulturalisme di Yogyakarta
(Ilustrasi)

TIDAK dapat disangkal bahwa konten politis yang bernada kebencian maupun suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) kini lebih mudah beredar melalui media sosial. Tidak bisa dimungkiri pula, beberapa anggota masyarakat mengalami persekusi akibat  berita melalui media sosial yang tidak utuh.

Kehadiran media sosial ini kata Ketua Institute of  Multiculturalism and Pluralism Studies (Impulse) Gutomo Priyatmono berperan kuat melunturkan nilai multikulturalisme di masyarakat.

Dalam diskusi yang digelar di Center for Digital Society, Yogyakarta, Kamis (2/8), Gutomo menjelaskan, nilai multikulturalisme perlahan memudar di Yogyakarta.

Ia kemudian mencontohkan, meskipun hidup berdampingan,  mahasiswa  luar Jogja tidak saling kenal dengan masyarakat asli Jogja. Padahal, multikulturalisme adalah belajar tentang sudut pandang dan cara hidup bersama. "Hidup bersama artinya ada relasi, dialog, dan  penghormatan satu sama lain," ujarnya.

Di sisi lain, lanjut Gutomo, keberadaan media sosial dikhawatirkan mendistorsi multikulturalisme. Salah satu penyebabnya adalah budaya
baca yang rendah. Hal itu memudahkan penyebaran hoaks (berita bohong/palsu).
 
Gutomo menyebutkan media sosial sebenarnya memiliki banyak macam informasi, namun karena budaya kritis yang rendah, orang Indonesia  cenderung percaya satu informasi tanpa mencari tambahan sumber informasi  lain.

Konstruksi sosial yang ada di media sosial, ujarnya, telah  membentuk kebenaran tunggal atau post-truth. Gutomo juga mengingatkan bahwa masyarakat harus menggunakan gawai pintar dengan cara yang pintar pula agar tidak terjebak distorsi media sosial.

Menurut dia, setiap orang harus memahami bahwa informasi yang ada di media sosial tidaklah utuh. Untuk itu diperlukan  pencarian informasi lebih lanjut. Tentunya akan berbahaya jika individu hanya menelan mentah-mentah semua informasi yang mereka terima tanpa melakukan verifikasi dengan melihat sumber berita lain.

"Hidup bersama adalah sebuah tantangan," kata Gutomo mengutip penyataan Mahatma Gandhi.

Dalam konteks keindonesiaan, ujarnya lagi, berbineka adalah tantangan, tetapi Indonesia harus melihatnya sebagai sebuah gerbang.

"Inilah yang akan memperkaya Indonesia apabila kita dapat hidup bersama," tegasnya. (A-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya