Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
TIDAK dapat disangkal bahwa konten politis yang bernada kebencian maupun suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) kini lebih mudah beredar melalui media sosial. Tidak bisa dimungkiri pula, beberapa anggota masyarakat mengalami persekusi akibat berita melalui media sosial yang tidak utuh.
Kehadiran media sosial ini kata Ketua Institute of Multiculturalism and Pluralism Studies (Impulse) Gutomo Priyatmono berperan kuat melunturkan nilai multikulturalisme di masyarakat.
Dalam diskusi yang digelar di Center for Digital Society, Yogyakarta, Kamis (2/8), Gutomo menjelaskan, nilai multikulturalisme perlahan memudar di Yogyakarta.
Ia kemudian mencontohkan, meskipun hidup berdampingan, mahasiswa luar Jogja tidak saling kenal dengan masyarakat asli Jogja. Padahal, multikulturalisme adalah belajar tentang sudut pandang dan cara hidup bersama. "Hidup bersama artinya ada relasi, dialog, dan penghormatan satu sama lain," ujarnya.
Di sisi lain, lanjut Gutomo, keberadaan media sosial dikhawatirkan mendistorsi multikulturalisme. Salah satu penyebabnya adalah budaya
baca yang rendah. Hal itu memudahkan penyebaran hoaks (berita bohong/palsu).
Gutomo menyebutkan media sosial sebenarnya memiliki banyak macam informasi, namun karena budaya kritis yang rendah, orang Indonesia cenderung percaya satu informasi tanpa mencari tambahan sumber informasi lain.
Konstruksi sosial yang ada di media sosial, ujarnya, telah membentuk kebenaran tunggal atau post-truth. Gutomo juga mengingatkan bahwa masyarakat harus menggunakan gawai pintar dengan cara yang pintar pula agar tidak terjebak distorsi media sosial.
Menurut dia, setiap orang harus memahami bahwa informasi yang ada di media sosial tidaklah utuh. Untuk itu diperlukan pencarian informasi lebih lanjut. Tentunya akan berbahaya jika individu hanya menelan mentah-mentah semua informasi yang mereka terima tanpa melakukan verifikasi dengan melihat sumber berita lain.
"Hidup bersama adalah sebuah tantangan," kata Gutomo mengutip penyataan Mahatma Gandhi.
Dalam konteks keindonesiaan, ujarnya lagi, berbineka adalah tantangan, tetapi Indonesia harus melihatnya sebagai sebuah gerbang.
"Inilah yang akan memperkaya Indonesia apabila kita dapat hidup bersama," tegasnya. (A-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved