Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
BALAI Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta memperkirakan letusan freatik Gunung Merapi akan lebih sering terjadi. Letusan ini akan menjadi pembuka sumbat kawah Merapi serta penanda akan terjadinya erupsi magmatik.
"Iya betul. Ada kemungkinan letusan freatik ini kombinasi magmatis tapi sedang menunggu analisa abu," kata Kepala Seksi Merapi BPPTKG Agus Budi Santoso di kantornya Jalan Cendana Kota Yogyakarta, Rabu (23/5).
Menurutnya, tim di lapangan juga sedang mencari debu yang mengandung material glass dan gerakan migrasi magma terbaru yang ditandai dengan adanya gempa vulkanik tektonik yang instens terjadi.
Jika melihat keadaan yang terjadi, Agus memastikan erupsi magmatik yang nanti terjadi dipastikan berbeda dibandingkan 2006 maupun 2010.
Pada Rabu (23/5) dini hari, letusan freatik besar terjadi pukul 03.31 WIB. Lesusan berdurasi empat menit ini menghasilkan kolom letusan setinggi 2.000 meter dengan kolom letusan menuju barat daya. Ini adalah letusan ke empat dalam waktu tiga hari sejak Minggu (21/5).
Letusan ke empat kalinya ini mengakibatkan terjadinya hujan abu di Kabupaten Magelang terutama di wilayah kawasan rawan bencana II dan III di desa Keningar, Sumber, Dukuh, Kalibening. Jangkauan abu yang mencapai 25 km juga dilaporkan menguyur kawasan Candi Borobudur.
"Kami terus waspada karena letusan freatik dengan intensif tinggi akan sering terjadi dalam waktu ke depan. Namun kapan letusan freatik akan terjadi kita tidak bisa prediksi," jelasnya.
Kepala Seksi Merapi BPPTKG Agus Budi Santoso kepada wartawan Rabu pagi. Letusan freatik yang terjadi mendadak karena adanya kontak magma dengan air tanah menurut Agus menjadi penanda untuk mengetahui aktifitas Gunung Merapi ke depan. Sebab letusan freatik adalah pembuka sumbatan kawah agar magma bisa keluar.
Bila dibandingkan dengan letusan pada 2006 atau 2010, morfologi sumbatan kawah Merapi saat ini menurut Agus berbeda. Jika sebelumnya sumbatan berbentuk runcing, tanda sumbatan sangat kuat. Namun, saat ini bentuk sumbatan lebih tipis dibandingkan sebelumnya.
Meski akan terjadi lebih intensif, tapi BPPTKG menurut Agus belum bisa memastikan kapan letusan magmatik akan terjadi. Saat ini sedang dilakukan kajian mengenai jenis material yang gugur saat freatik pada Minggu lalu. (OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved