Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Mikrohidro, Inovasi BLI KLHK yang Terangi Warga Desa Tertinggal

Dede Susianti
20/4/2018 16:58
Mikrohidro, Inovasi BLI KLHK yang Terangi Warga Desa Tertinggal
Penampungan air yang merupakan sumber air yang digunakan sebagai tenaga listrik dengan menggunakan inovasi mikrohidro (pembangkit listrik tenaga mikrohidro/PLTMH) di Kampung Kayu Biranga, Kelurahan Borong Rappoa, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, Sul(MI/DEDE SUSIANTI)

KEMENTERIAN Pembangunan Daerah, Desa Tertinggal dan Transmigrasi mengungkapkan jumlah desa tertinggal masih sangat tinggi yakni 33.592 desa atau 45,57% dari total seluruh desa yang ada di Indonesia. Sedangkan sebanyak 13.453 desa atau 18,25% merupakan desa sangat tertinggal.

Senggang, Katimbang, Kayu Biranga dan Na na ialah empat nama kampung yang masuk golongan desa tertinggal. Desa terpencil dan terisolir itu berada di kaki gunung atau kawasan Hutan Lampo Battang, Kelurahan Borong Rappoa, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan.

Dulu keempat desa ini hidup tanpa listrik. Namun sejak ada pengembangan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) atau sering disebut mikrohidro, kini mereka bisa menikmati listrik. Mikrohidro ialah proyek Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), melalui inovasi hasil para peneliti dari Badan Litbang dan Inovasi (BLI).

Kepala Badan Litbang dan Inovasi pada KLHK Agus Justianto mengatakan pihaknya mempunyai tugas untuk memberikan dukungan dalam penelitian dan pengembangan untuk mendukung kebijakan, program dan kegiatan KLHK khususnya dan program pemerintah. Penelitian dan pengembangan mikrohidro, lanjutnya, salah satu bentuk dukungan itu.

"Ternyata di tempat ini, di desa ini kita bisa melihat bahwa hasil riset memang bisa diaplikasikan dan berhasil menggerakan perekonomian masyarakat. Kita tahu bahwa pemerintah juga KLHK punya program utama diantaranya adalah perhutanan sosial. Tentunya hasil penelitian ini sangat mendukung implementasi program perhutanan sosial di lapangan. Diantaranya hutan kemasyarakatan," paparnya, saat kunjungan ke kampung-kampung tersebut.

Selama ini pemerintah telah memberikan ijin pengelolaan hutan seperti HKM untuk membantu kemajuan desa-desa tertinggal. Namun, menurutnya, itu saja tidak cukup karena masyarakat desa tertinggal tetap perlu pendampingan dan dukungan lain termasuk iptek.

"Jokowi mendorong akses masyarakat kelola hutan. Kita tidak hanya memberikan akses, tapi juga mendorong mereka menjaga hutan dan memberikan mereka manfaaat. Program kami berat. Tapi dengan hidro ini bisa juga memberdayakan masyarakat," pungkasnya.

Bupati Bulukumba AM Sukri Sappewali, hingga saat ini, masih ada sembilan desa yang terpencil dengan jumlah total 113 kepala keluarga di wilayahnya yang bahkan belum teraliri listrik.

"Sudah ada empat pusat listrik tenaga hidro mikro, tenaga lingkungan, di atas sana. Dua proyek lagi disiapkan di Gunung Kahaya,"katanya, di Bulukumba, Kamis (19/4).

Dia mengatakan untuk menjaga kelestarian hutan dan mendorong peran serta masyarakatnya, harus dilakukan dengan pendekatan khusus. Termasuk dengan pembangunan. "Kita harus mendekati. Kalau kita lawan, mereka akan melawan," ujarnya.


Swadaya
Pembangunan mikrohidro dilakukan secara swadaya. Warga mengumpulkan iuran sebesar Rp2 juta per kepala keluarga (KK). Biaya pembangunan mikrohidro sendiri bervariasi dengan kisaran Rp100-Rp150 juta.

Biaya itu untuk pengadaan turbin, pipa pesar, generator, haringan kabel dan peralatan elektrik lainnya seperti seng, kayu, paku, cat dan bahan-bahan lain yang tidak tersedia di wilayah tersebut. Sedangkan bahan yang tersedia di lokasi seperti pasir, batu, kayu dan tenaga kerja semua dikumpulkan dan dikerjakan secara gotong royong.

Ardy Labarani dari Lembaga Swadaya Masyarakat Oasis mengatakan, program yang dilakukan di kampung tersebut adalah program partisipasi multipihak. Pada model itu, ujarnya, masyarakat bukan sebagai objek, tapi sebagai pelaku utama. Di mana pengelolaan sumber daya hutan tidak dipelihara satu pihak saja, tapi bersama-sama.

Listrik menjadi satu dari berbagai manfaat mikrohidro inovasi BLI yang kini dirasakan warga keempat kampung itu. Di Kampung Senggang, sudah listrik sebesar 7,5 KW (kilo watt) untuk delapan KK. Di Kampung Ketimbang, sebesar 5 KW untuk 15 KK. Di Kampung Kayu Biranga sebanyak 15 KW untuk 47 KK, dan di Kampung Na na sebanyak 20 KW untuk 43 KK.

Dengan adanya mikrohidro itu, masyarakat bisa menghemat. Karena mereka tidak lagi meneluarkan biaya untuk bahan bakar genset. Sebelumnya, untuk penerangan selama 4 jamyakni pukul 6 petang hingga 10 malam, mereka harus mengeluarkan biaya Rp 10 ribu untuk 22 liter bensin. Jika diakumulasikan, pengeluaran mereka dalam satu bulan untuk penerangan dengan waktu terbatas itu sebesar Rp600 ribu.

Selain itu, Warga juga menghemat biaya pengeluaran untuk peralatan pertukangan. Untuk membangun 1 buah katu genset memakan waktu 1 hingga 2 bulan. Sedangkan kebutuhan bahan bakarnya, lima liter bensin per hari. Warga tidak perlu lagi menggunakan lampu pelita yang menggunakan minyak tanah. Sebelumnya, untuk 1 pelita saja mereka harus menggeluarkan uang Rp12 ribu per liter untuk membeli bahan bakar minyak sebanyak 2 liter.

Ketua tim peneliti Hidromikro Hunggul YSH Nugroho mengatakan mikrohidro itu sekadar alat dan tujuannya bukan hanya listrik. Tapi bagaimana masyarakat menjaga hutan.

"Mereka mau menjaga hutan kalau sudah merasakan alatnya. Kami menggunakan PLTMH sebagai tool, alat saja atau pintu masuk. Awalnya hanya untuk sekedar listrik. Kemudian dikembangkan dan meningkatkan nilai tambah," katanya.

"Yang ingin dihasilkannya adalah timbal balik positif. Jika hutan bagus kehidupan mereka juga bagus. Mereka bisa mandiri energi. Dan bukan hanya energi ada di situ tapi juga pengelolaan jangka panjang. Mendorog ekonomi pedesaan berbasis mikrohirdo. Mandiri energi dan ekonomi, bukan, di Na na, Bulukumba tapi di kampung-kampung lain." (OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Anata
Berita Lainnya