Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Lewat Cabai, Suparmin Raup Rp280 Juta Setiap Bulan

Surya Sriyanti
20/4/2018 16:16
Lewat Cabai, Suparmin Raup Rp280 Juta Setiap Bulan
(ANTARA)

PRIA paruh baya bertelanjang dada itu nampak tekun melihat helai demi helai lembar daun dari tanaman yang ada di hadapannya. Teriknya matahari dan peluh yang terus menetes dari kening dan tubuhnya tak jua dihiraukannya. Mata tuanya terus memandangi satu demi satu pohon cabai yang nampak mulai berbuah subur.

"Ini pekerjaan saya setiap hendak panen, melihat apakah ada hama yang menyerang tanaman cabai ini," ujar Suparmin, petani cabai di Desa Natai Raya, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Jumat (20/4).

Tak salah bila transmigran asal Solo berusia 50 tahun itu bungah, karena hamparan pohon cabai dilahan seluas dua hektar itu tumbuh subur. Apalagi varitas cabai yang ditanam adalah jenis cabai sigantung yang mempunyai harga tinggi yakni Rp50 ribu per kilogram.

Pria berbadan legam ini kemudian mengisahkan, sebelum menjadi Patani cabai ia pernah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari pekerja bangunan hingga petani penggarap.

"Namun semua hasilnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga," kata dia.

Perubahan nasib itu mulai dirasakan pada tahun 2015 lalu ketika pemerintah daerah  melakukan pendampingan dan bantuan kepada petani. Di lahan miliknya, seluas dua hektar miliknya ia pun mulai menerapkan ilmu yang didapatkan dari penyuluh pertanian yang dikirim pemerintah dengan menanam sekitar 36 ribu batang pohon cabai atau sekitar 18 ribu pohon per hektare.

Dengan masa tanam empat bulan, panen akan dilakukan empat hari sekali selama satu bulan dengan hasil per hektarenya mencapai empat kuintal.

"Hitungannya dalam beberapa kali panen selama sebulan totalnya menghasilkan  28 kuintal cabai per hektar. Kalau lahan 2 Ha, cabai bisa dipetik bisa mencapainya 56 kuintal,".

Dengan asumsi biaya produksi per 1000 pohon  Rp5 juta, maka selama 1 bulan, saat panen di lahan dua hektare akan menghasilkan 56 kuintal cabai dengan harga jual Rp50 ribu per kilogram, penghasilan Suparmin selama sebulan mencapai Rp280 juta. Angka yang sangat besar untuk petani cabai.

"Lumayan lah bisa untuk membantu anak kuliah di Jawa dan memenuhi kebutuhan di rumah," ujar kakek dua cucu ini berusaha merendah.

Saat ia bersama 24 petani mendirikan koperasi Sumber Makmur. Suparmin didaulat untuk menjadi ketua. Dengan lahan seluas 16 hektare, mereka mulai mengembangkan tanaman cabai sekala besar dan juga kebun jagung. Untuk pengembangannya, kelompok tani ini akan dibantu Bank Indonesia Kalteng.

Wuryanto Perwakilan BI Kalteng yang meninjau kebun milik kelompok tani pimpinan Suparmin mengatakan dalam waktu dekat ini pihaknya akan memberikan bantuan yang dibutuhkan petani. "Selain membantu bibit, kami akan meneruskan pendampingan yakni mengenai cara mengelola keuangan secara sederhana," ujarnya.

Cara pengelolaan uang secara sederhana ini perlu diberikan karena ia melihat problem yang dihadapi petani, baik itu cabai, karet ataupun kopi adalah masih tergantung pada tengkulak akibat ketiadaan modal.

"Akibatnya yang menentukan harga bukan petani tapi para tengkulak, ini yang harus kita balik," tuturnya. (OL-5)

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Anata
Berita Lainnya