Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Tenaga Atom Nasional (Batan) kini sedang mengembangkan pemanfaatan limbah radioaktif menjadi baterai nulir. Baterai nuklir itu diharapkan memiliki tingkat keawetan yang lebih tinggi sehingga mampu bertahan tanpa pengisian ulang (recharge) hingga 10 tahun atau bahkan lebih.
Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan ke depan, baterai nuklir ini akan digunakan untuk mendukung sistem pertahanan. Tak hanya itu, baterai nuklir ini juga bisa dimanfaatkan sebagai sumber listrik di kawasan terpencil di Indonesia.
"Ini akan sangat bermanfaat baik untuk kepentingan sipil maupun kepentingan militer saat berada di medan yang sulit mendapat pasokan listrik," katanya di sela-sela rapat koordinasi pengolahan limbah radioaktif di Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir di Babarsari Yogyakarta, Kamis (19/4).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, ujarnya, baterai nuklir ini tahan lama dengan masa pakai yang panjang. Ia mengemukakan, ide pembuatan baterai nuklir ini sebenarnya meniru apa yang dilakukan lembaga antariksa NASA, yakni baterai nuklirnya untuk sumber daya pesawat penjelajah ruang angkasa.
Baterai nuklir dari limbah radioaktif diklaim memiliki banyak manfaat, terutama bagi daerah terluar dan terpencil sebagai sumber energi listirk. Sedangkan bagi sistem pertahanan militer, pemanfaatan energi baterai nuklir ini salah satunya sebagai sumber energi ketika melakukan patroli di hutan atau di daerah pegenungan (daerah terpencil) selama beberapa hari.
Penggunaan baterai ini harus dengan syarat tingkat keselamatannya terjamin. Hal itu, menurut Djarot, menjadi sebuah tantangan.
"Ketika itu dipasang di suatu tempat, apakah aman dari pencurian atau kejahatan lainnya. Juga saat digunakan oleh kalangan militer, bagaimana jika kemudian kemasan baterai nuklir itu terkena tembakan, bagaimana kalau dicuri pihak lawan dan sebagainya," katanya.
Selain masalah keamanan, tantangan yang dihadapi dalam pengembangan baterai nuklir ini adalah modifikasi bentuk baterai nuklir yang harus disesuaikan kebutuhan. "Karena itu itu, kami sedang melakukan penelitian mengenai hal itu," ujarnya.
Lebih lanjut Djarot mengatakan, Indonesia memiliki cukup banyak limbah nuklir yang tersimpan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) limbah nuklir. Sesuai dengan PP 61 tahun 2013 tentang Pengelolahan Limbah Radioaktif, Batan melalui Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR) mengelola limbah radioaktif berjumlah 3.000 buah menjadi barang daur ulang.
"Saat ini kami sedang mengembangkan baterai nuklir dengan memanfaatkan berbagai limbah radioaktif yang diperoleh dari 15.000 instansi pengguna di Indonesia," katanya.
Sementara itu, Kepala PTLR BATAN Husen Zamroni menjelaskan, daya listrik yang dihasilkan baterai nuklir tergantung pada daya radiasinya. Makin besar daya radiasi maka makin besar daya listrik yg dihasilkan begitu juga sebaliknya.
Contohnya, Plutonium-238 mempunyai daya radiasi sebesar 560 watt setiap kg-nya yang dapat dijadikan bahan baterai nuklir jenis RTG yang mampu menghasilkan listrik sebesar 25-40 watt. Apa yang saya sampaikan ini hanya contoh," katanya.
Husen mengatakan, secara umum tingkat radioatif bahan nuklir ditentukan dari waktuh paruhnya. Jika waktu paruhnya semakin panjang, mencapai 100 tahun maka tingkat radioaktifnya semakin kecil, demikian sebaliknya. (OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved