Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Pipa Minyak Pertamina Patah Diduga akibat Hantaman Jangkar Kapal

Syahrul Karim
17/4/2018 21:55
Pipa Minyak Pertamina Patah Diduga akibat Hantaman Jangkar Kapal
(MI/Syahrul Karim)

PUSAT Hidrografi dan Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal), Selasa (17/4), merilis temuan terkait tragedi tumpahan minyak yang terjadi di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur.

Kepala Pushidrosal Laksda TNI Harjo Susmoro menjelaskan tim investigasi mulai bekerja sejak Jumat (6/4) petang. Dalam peta bawah laut Balikpapan 2015 terdapat 4 pipa minyak bawah laut yang membelah perairan Balikpapan-Penajam Paser Utara.

Pushidrosal fokus menginvestigasi  bawah laut di sekitar lokasi patahan pipa minyak. Dari hasil pencitraan bawah laut terdapat pergeseran pipa.

"Kami baru tahu Kamis (5/4), dapat informasi kebocoran. Jumat tim langsung berangkat, malamnya bekerja. Setelah kita cek, memang benar ada pipa patah. Untuk diketahui kawasan tersebut merupakan Daerah Terbatas dan Terlarang (DTT), termasuk larangan lego jangkar bagi pengguna laut. Pengawasan bagian KSOP (Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan)," kata Harjo yang juga chief hydrographer Indonesia.

Saat dilakukan pencitraan bawah laut, didapat hasil visual yang mendeskripsikan terjadinya pergeseran pipa minyak paling utara. Bahkan saat pihaknya menggunakan magnetometer, terkuak fakta baru, ada pipa kelima yang bersembunyi di dasar tanah perairan Teluk Balikpapan.

"Saya scan pakai magnetometer (alat pendeteksi logam). Ternyata dengan itu didapati logam kelima. Ini dimungkinkan juga pipa. Pakai magnetometer kita bisa tahu logam yang meski berada 50 meter di dalam tanah dasar laut," jelas Harjo.

Dari hasil pencitraan beberapa alat, juga diperoleh data faktual terkait visualisasi di dasar laut Teluk Balikpapan dengan ke dalam 21-25 meter. Di antaranya, ada 5 lajur pipa, terdapat parit sepanjang 498,82 meter dengan lebar 2,5 meter dan kedalaman 0,7 meter, sedangkan posisi pipa yang patah bergeser ke arah tenggara sejauh 117,34 meter.

"Pipa paling utara bergeser. Bila diperbesar ada patahan. Saya pakai scan sonar, lebih jelas lagi ada lubang di tanah. Semacam ada garukan," ucap Harjo.

Kendati demikian, pihaknya belum bisa memastikan penyebab pipa patah mengarah pada kapal MV Ever Judger, jangkar kapal seberat 12 ton diduga tersangkut di pipa, lalu menggaruknya hingga patah.

"Ini pipa yang putus. Mungkin kena jangkar atau apa, saya tidak tahu," tuturnya.

Pihakya masih mencoba menganalisa dengan mencocokan dengan data Automatic Identification System (AIS) untuk memastikan kapal pemilik jangkar. Hasilnya adalah tidak ada kapal lain yang melintas di kawasan terlarang tersebut selain kapal kargo batubara Ever Judger Panama sesaat sebelum kejadian.

"Dari rekam digital, diperoleh data bahwa kapal yang diawaki WNA asal Tiongkok tersebut sempat melambat tepat di atas TKP patahan pipa, bahkan kecepatan hampir menyentuh 0 knot. Namun kapal bergerak kembali hingga radius 445 meter dari area terlarang, untuk kemudian lego jangkar. Saya track, menunjukkan ada posisi, gerakan kapal kecepatan rendah, pas letaknya pada patahan pipa," bebernya.

Harjo menyebut, kapal Ever Judger berdasarkan data AIS diketahui masuk ke perairan Teluk Balikpapan pada Jumat (30/3) malam.

Sekitar 22.05 Wita kapal kargo batu bara berada di kawasan DTT perairan Teluk Balikpapan.

Pada momen itulah, dugaan penyebab terjadinya pipa minyak patah yang mengakibatkan pencemaran dashyat disebabkan oleh jangkar seberat 12 ton. Diduga jangkar jatuh menghantam pipa bawah laut, lalu mengeruknya hingga terputus.

"Saya tidak mengatakan, ada aparat (penyidik) yang berhak mengatakan benar atau tidak. Saya sampaikan hasil investigasi, berdasarkan data pergerakan AIS, lekukan tanah, dimungkinkan itu ada garukan benda keras, dugaannya jangkar. Posisinya tepat di lokasi patahan pipa. Sesuai data di AIS, Pergerakan kapal besar hanya Ever Judger," jelasnya.

Harjo menjelaskan proses lego jangkar sesuai prosedur, 2 mil sebelum melegokan jangkar nakhoda mengumunkan kepada KSOP setempat. Kecepatan kapal dipastikan menurun mulai dari 8 knot. Biasanya nakhoda menginstruksikan crew di haluan untuk menurunkan jangkar.

"Jangkar dilepas dari ikatannya, turunkan ke bawah 1 meter di atas permukaan laut. Fungsinya pada saat titik lego, ada beban bisa langsung turun," katanya.

Bila memang pipa Pertamina yang patah disebabkan oleh jangkar, semua mata tertuju pada kapal Ever Judger yang juga jadi korban terdampak kebakaran di tengah laut.

"Kalau benar disebabkan jangkar, ada kemungkinan bisa salah pemahaman operator di depan, bisa juga kelalaian. Itu penyidik yang dibuktikan," ujarnya. (A-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya