Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional Yogyakarta, selama Januari hingga 10 April 2018 baru bisa menyerap 8.960 ton beras petani. Jumlah itu sekitar 18% dari target selama 2018 yang sebanyak 50.000 ton.
Kepala Bulog Divre Yogyakarta Ahmad Kholisun, Rabu (11/4), mengatakan, serapan beras itu berasal dari seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan tingkat serapan yang cukup merata. Terbanyak berasal dari Sleman dan Bantul.
"Di sisi lain, kepercayaan petani untuk menjual berasnya ke Bulog juga cukup tinggi," kata Kholisun.
Kholisun menambahkan, Bulog masih menerapkan harga dengan fleksibilitas maksimum 10% dari harga pembelian pemerintah (HPP). Menurut dia penyerapan masih terus berjalan.
"Serapan tertinggi bisa menyentuh 1.000 ton per hari," kata Kholisun.
Sebagai upaya stabilisasi gejolak harga menjelang bulan puasa, Bulog Divre Yogyakarta akan menggencarkan gerakan stabilisasi harga pangan (GSHP).
Program itu, jelas Kholisun, bukan hanya menjual beras, namun juga kebutuhan pokok lainnya, seperti minyak goreng, gula pasir, tepung terigu, hingga daging sapi beku. "Kami juga menyiapkan langkah operasi pasar," ujarnya.
Dalam kaitan stok beras menjelang puasa, Kholisun menjamin aman. "Stok beras aman bahkan sampai Idul Fitri usai masih mencukupi," tegasnya.
Berdasarkan data saat ini, gudang Perum Bulog Divre DIY masih menyimpan stok beras mencapai 18.960 ton yang diperkirakan akan mencukupi hingga Agustus 2018.
Beras Bantul
Secara terpisah, Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul, Pulung Haryadi, menegaskan Pemkab Bantul akan mengelola beras produk petani dan akan memasarkannya dengan label nama beras asli Bantul.
"Arahan dan pesan dari Pak Bupati, bagaimana Bantul yang mempunyai
produksi beras melimpah itu bisa dipasarkan dengan nama beras asli Bantul," tuturnya.
Menurut Pulung, untuk mempersiapkan pengelolaan beras petani yang akan difasilitasi dengan merek asli Bantul itu, pihaknya sudah melakukan koordinasi beberapa kali dengan lembaga terkait, termasuk para petani produsen beras.
Untuk memasarkan beras tersebut, pihaknya akan membuat jaringan kerja sama yang baik antara petani sebagai produsen dengan kelompok pemasaran yang dalam hal ini adalah lembaga distribusi pangan masyarakat. "Ini tidak lain adalah kumpulan para petani yang menghasilkan beras," terang Pulung.
Langkah strategis yang akan ditempuh, lanjutnya, yaitu bagaimana memiliki beras asli Bantul, kemudian menjaga atau membela petani dengan memastikan harga di tingkat petani adalah harga yang wajar.
Pulung mengatakan, akan ada satu nama merek beras Bantul yang sekaligus menggambarkan mutu dan kualitas beras tersebut. Produsen pun berkewajiban mempertahankan mutu.
Nantinya, menurut Pulung, beras tersebut dibagi menjadi beberapa kelas, misalnya beras medium, beras premium, bahkan beras organik. Hal itu akan disesuaikan dengan permintaan pasar. (A-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved