Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Ganjar Beri Maaf

Akhmad Safuan
09/4/2018 13:55
Ganjar Beri Maaf
(ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA)

CALON Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memaafkan orang yang nyaris menghancurkannya, yakni dengan membuat pernyataan melalui media sosial (medsos) yang dapat memicu pertentangan antarumat.

Suhu politik Pilgub Jawa Tengah tiba-tiba kembali menghangat, ketika muncul ujaran di medsos tentang sebuah penggalan puisi yang dibacakan calon gubernur nomor urut 1 Ganjar Pranowo di sebuah stasiun televisi swasta. Puisi itu berjudul Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana, karya KH Mustofa Bisri yang akrab disapa Gus Mus.

Seorang pengguna twitter yang juga presenter di sebuah stasiun televisi swasta Muhammad Agung Izzulhaq (@agungizzulhaq) mengutip satu bait puisi itu.
Kau bilang Tuhan sangat dekat,
namun kau sendiri memanggilnya dengan pengeras suara setiap saat

dan menambahkan tulisan di bawahnya,

Satu lagi puisi murah nan tidak bermutu! Bukankah azan panggilan untuk manusia, bukan untuk Tuhan! Oh Tuhan banyak sekali maklukmu
yang memilih dungu menjadi viral di media sosial.

Setelah berbagai kecaman muncul karena menuding penulis puisi yang merupakan salah satu ulama besar Indonesia tersebut adalah orang dungu,buru-bu ru ujaran di medsos tersebut dihapus. Izzulhaq lalu meminta maaf dengan dalih tidak mengetahui penulis puisi yang merupakan seorang ulama.

Dalam menanggapi ujaran itu, Gus Mus  melalui akun @gusmusgusmus hanya membalas singkat,

Belajar mendengar dengan baik, memudahkan kita berbicara baik.

Calon gubernur petahana Ganjar Pranowo yang menjadi sasaran tembak dari ujaran yang menjadi viral di medsos setelah membacakan puisi Gus Mus itu mengaku telah memaafkan si pengunggah di medsos.

"Saya sudah maafkan dia. Bahkan saya izin untuk mengikuti akun twitter-nya," kata Ganjar Pranowo seusai mengikuti rapat kerja khusus PDIP di Demak, Jawa Tengah, Senin (9/4).

Ganjar mengatakan puisi yang dibacakan karya Gus Mus sudah ada sejak 1987 dan sudah dibacakan oleh banyak orang dari santri hingga menteri. Nnamun sekarang ketika dirinya yang membacakan karya indah penuh makna ini dipermasalahkan.

"Ada tendensi apa sebenarnya?" tanyanya.

Menurut Ganjar, kabar bohong dan hoaks harusnya diklarifikasi agar tidak menimbulkan efek negatif. Banyak makna yang tersimpan dalam puisi karya Gus Mus, bahkan itu merupakan kritik pemerintah.

"Tapi sudahlah, sudah minta maaf ya dimaafkan," imbuhnya. (A-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya