Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Gunungkidul Perluas Areal Tanam Padi

Agus Utantoro
08/2/2018 09:18
Gunungkidul Perluas Areal Tanam Padi
(Dua petani menanam padi jenis ciherang di lahan sawah tadah hujan di Karangmojo, Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta, beberapa waktu lalu---ANTARA/Aditya Pradana Putra)

GUNUNGKIDUL, salah satu kabupupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta yang lebih dikenal sebagai daerah tandus dan selalu mengalami kesulitan air bersih setiap musim kemarau itu mulai berbenah.

Pemerintah setempat melihat kondisi alam seperti itu menjadi tantangan untuk pengembangan pertanian, termasuk di dalamnya adalah pertanian padi.

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta cukup serius
mengembangkan pertanian padi di daerah ini. Bahkan untuk 2018 ini, BPTP menargetkan akan menambah luas areal penanaman padi hingga 60.000 hektare.

Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta Joko
Pramono mengatakan Januari sampai awal Februari, luasan tambah
tanam (LTT) sudah mencapai 50 ribu hektare. "Jadi dalam dua bulan ini,
kami berusaha menyelesaikan kekurangan 10 ribu hektare," katanya.

Untuk penembangan areal ini, BPTP Yogyakarta telah menerapkan
teknologi rekayasa tanam, salah satunya di Desa Wareng, Wonosari,
Gunungkidul.

"Semula hanya sekali tanam, kini sudah dua kali tanam. Teknologi yang ada luasan lahan pertanian bisa meningkat bebeberapa kali lipat. Seperti di Wareng, luasanya meningkat dari enam hektare, kini menjadi 32 hektare yang menggunakan teknologi BPTP," jelasnya.

Sementara Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi mengharapkan petani di wilayah ini terus meningkat produksi padinya. Seperti di Desa
Pilangrejo, Nglipar bisa memanen tiga kali. "Ini membuktikan bahwa Gunungkidul sebagai lumbung padi di DIY," kata Immawan.

Dengan pencapaian seperti ini, lanjutnya, cadangan pangan masyarakat
Gunungkidul tidak akan habis. "Petani juga masih memiliki cadangan
pangan," ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Bambang Wisnubroto menjelaskan di Desa Pilangrejo luasan tanah pertanian di Nglipar 280
hektare, dengan dua kali tanam menghasilkan 4.130 ton beras."Ada surplus 1.276 ton khusus di Nglipar," pungkasnya.(OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya