Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Di Babel Ada 73 Anak Menderita Gizi Buruk

Rendy Ferdiansyah
24/1/2018 14:45
Di Babel Ada 73 Anak Menderita Gizi Buruk
(ANTARA)

DINAS Kesehatan (Dinkes) Pemprov Babel mencatat Sepanjang tahun 2017, sebanyak 73 balita mengalami gizi buruk. Angka ini menurun sedikit dibandingkan 2016 yang masih ditemukan 75 anak menderita gizi buruk.

Kasus gizi buruk pada 2017 ini, terjadi di Bangka 7 kasus, kota Pangkalpinang 17 kasus, Belitung Timur (13), Belitung (6) , Bangka Barat (8) , Bangka Selatan (10) dan Bangka Tengah (12).

Ironisnya, jumlah kasus terbanyak justru terjadi di Kota Pangkalpinang, yang notabenenya dekat dengan fasilitas kesehatan dan cukup memadai.

Sedangkan pada 2016 lalu, kasus gizi buruk juga cukup banyak di Kota Pangkalpinang, yakni 21 kasus, disusul Bangka 16 kasus, Bangka Tengah (14), Belitung (7) , Bangka Selatan (7), Bangka Barat (6), dan Beltim (4).

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Babel, Mulyono Susanto menegaskan, kasus yang terjadi ini bukan kasus gizi buruk akut tetapi balita yang dimaksud jika dilihat dari berat badan standar tidak mencapai berat badan standar, sehingga dikatagorikan gizi buruk.

"Kalau kurang gizi karena tidak makan, itu bisa dikatakan tidak ada, yang terdata ini umumnya adalah balita yang mempunyai penyakit sehingga berat badannya tidak mencapai standar," kata Mulyono.

Ia menyebutkan, tahun ini pemerintah memiliki program terpadu untuk penanganan masalah gizi, dimana di Babel ditekankan di Bangka Barat (Babar).

"Penanggulangan stanting ada di 100 kabupaten, Babel ada di Babar, mereka berdasarkan angka, nanti di situ kegiatan untuk penanggulangan gizi, termasuk gerakan hidup sehat, karena gizi kurang, stanting, perlu penanganan khusus dan lintas sektoral, tak bisa hanya dilakukan oleh kesehatan," ujarnya.

Ditetapkannya Babar sebagai daerah penanggulangan, menurutnya bisa dikarenakan beberapa faktor baik ekonomi, air bersih, dan lainnya.

"Kalau ndak ada air bersih anak akan sering diare, kemungkinan juga akses ke layanan kesehatan jauh, mau berobat susah karena tertutup," ulasnya.

Mulyono menambahkan, bukan berarti kabupaten lain tidak mendapatkan perhatian, tetap mendapat perhatian, tetapi lebih difokuskan di Bangka Barat.

Ia berharap, melalui beberapa program dan pola hidup sehat, tidak ditemukan lagi adanya balita yang menderita gizi buruk, jika pun ada, maka harus segera ditangani baik oleh kabupaten setempat, provinsi dan peran serta masyarakat.(OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya