Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Kurang Sinar Matahari, Gabah Milik Petani di Sukabumi Jadi Benih

Benny Bastiandy
25/12/2017 16:57
Kurang Sinar Matahari, Gabah Milik Petani di Sukabumi Jadi Benih
(ANTARA)

PETANI padi di Desa Wangunreja Kecamatan Nyalindung Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, merugi. Gabah hasil panen mereka kembali menjadi benih akibatkurangnya sinar matahari saat dalam proses pengeringan di penjemuran.

Seperti dialami Mimit, 45, petani warga Kampung Babakan Bandung RT 01/06. Mimit mengaku, musim panen di lahan sawah miliknya bersamaan tingginya curah hujan. Mimit sempat kebingungan dengan cuaca saat itu karena setelah panen biasanya ia harus segera menjemur gabah.

"Waktu itu panennya saat musim hujan. Hampir satu minggu tidak ada (sinar) matahari. Cuacanya hujan terus," kata Mimit, Senin (25/12).

Karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan, Mimit akhirnya menyimpan gabah hasil panen di gudang di rumahnya hampir empat hari. "Gabahnya basah. Pas saya lihat lagi, ternyata gabahnya berubah jadi benih," ujar Mimit.

Lahan sawah Mimit seluas 3.500 meter persegi. Sekali panen biasanya bisa menghasilkan sebanyak 2 ton. Tapi sekarang dalam kondisi curah hujan tinggi produksi yang dihasilkan sebanyak 1,5 ton. "Jelas merugi. Sekarang saja saya kehilangan hampir 500 kilogram gabah karena curah hujan tinggi," ujarnya.

Mimit mengaku, biaya produksi dari mulai masa tanam hingga panen rata-rata menghabiskan dana sekitar Rp4 juta. Hasil panen pada musim kali ini bisa dikatakan gali lubang tutup lubang. "Kecil keuntungannya yang panen sekarang mah," jelasnya.

Saat ini harga jual satu kuintal padi di kisaran Rp450 ribu. Jika produksi padi Mimit sebanyak 1,5 ton, berarti pendapatannya sekitar Rp4.725.000. "Gak nyampe Rp1 juta keuntungannya," ungkapnya.

Tapi Mimit tak berkecil hati. Meskipun relatif merugi, tapi mata pencahariannya sebagai petani tak akan dilepaskan begitu saja. "Makanya dijalani saja. Mau bagaimana lagi kondisinya sudah seperti ini," imbuhnya.

Sekarang Mimit sedang bersiap melaksanakan proses masa tanam lagi. Dia berharap kondisi cuaca yang sejak beberapa hari terakhir relatif normal bisa berlangsung hingga beberapa waktu ke depan.

"Sudah dua atau tiga hari ini cuaca sedang bagus. Matahari sedang cerah. Mudah-mudahan nanti bisa diimbangi dengan hujan juga. Kan yang bagus itu ada hujan ada juga panas," terangnya.

Kondisi yang dialami Mimit sekarang bisa jadi penyebab naiknya harga komoditas beras di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Sukabumi.

Berdasarkan data perkembangan harga pada Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM setempat, harga beras premium di Pasar Cisaat naik dari Rp11 ribu menjadi Rp12 ribu per kg, di Pasar Cibadak juga naik dari Rp11 ribu menjadi Rp11.200 per kg.

Lalu, di Pasar Parungkuda stabil di kisaran Rp10.600 per kg, di Pasar Cicurug juga stabil di kisaran Rp10.700 per kg, di Pasar Palabuharatu naik dari Rp10 ribu jadi Rp11 ribu per kg, begitu juga di Pasar Sukaraja naik dari Rp11 ribu jadi Rp11.500 per kg.

Sedangkan di Pasar Surade stabil di kisaran Rp11 ribu per kg. Sementara harga beras medium di Pasar Cisaat naik dari Rp10.500 jadi Rp11.000 per kg, di Pasar Cibadak naik dari Rp10.400 jadi Rp10.800 per kg, di Pasar Parungkuda stabil di kisaran Rp8.500 per kg, di Pasar Cicurug juga stabil di kisaran Rp10 ribu per kg.

Berikutnya, di Pasar Palabuhanratu naik dari Rp9 ribu jadi Rp10.500 per kg, di Pasar Sukaraja stabil di kisaran Rp9.500 per kg, di Pasar Surade di kisaran Rp10 ribu, dan di Pasar Sagaranten stabil di kisaran Rp9.500 per kg.

"Harga beras memang rata-rata terpantau naik dan stabil. Tapi naiknya tidak terlalu besar. Masih taraf wajar," kata Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM Kabupaten Sukabumi, Asep Japar. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya