Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
POHON natal imitasi kecil berdiri di pojok ruangan seluas 2x3 meter itu. Ia menjadi pertanda segera tibanya perayaan kelahiran Yesus Kristus di panti asuhan Rumah Kita, Kedung Waringin, Bekasi.
Di dekatnya, sejumlah bocah cilik berusia 5-10 tahun mulai menyanyikan sejumlah kidung. Zilo, Lili, Aan, Rama, Syifa, dan Leli rupanya tengah melatih lagu-lagu berjudul Dia Lahir, Kunyanyi Halelluya, Dari Pulau dan Benua, serta lagu Ruang Maha Kudus, untuk perayaan Natal nanti. Sesekali mereka terhenti karena bising kereta melintas di depan rumah.
Bersama istrinya, Ester Karlina, 51, Gideon Sutrisno, 57, mendirikan panti asuhan tersebut sejak 2015. Kini, bangunan seluas 72 meter persegi di tanah PT KAI itu menjadi rumah bagi 43 anak asuh.
Keinginan pasangan itu untuk mendirikan panti asuhan bukan tiba-tiba. Gideon pada awalnya mengelola panti asuhan di wilayah Karawang Barat. Namun, panti itu akhirnya harus tutup. “Saya lantas kembali ke rumah. Lalu, ada 11 anak datang dan mereka bingung mau tinggal di mana lagi. Akhirnya, saya ajak mereka tinggal di rumah saya,” kenang Gideon.
Bermodalkan uang Rp500 ribu, Gideon mulai merombak rumahnya. Ia menyekat ruangan-ruangan yang ada sehingga terbangunlah 6 kamar untuk anak-anak.
“Saya jadi ingat pada 1999, saat belajar misi di Batam, ada suster yang memberikan doa kepada istri saya. Katanya, ia akan memiliki panti asuhan saat umur 50 tahun. Ternyata benar.”
Dengan iman yang mereka percayai akan menjadi penyelamat hidup, pasangan dengan 5 anak tersebut terus berupaya menghidupkan ‘Rumah Kita’. Gideon pun bersyukur, tangan Tuhan tampak dari uluran donatur-donatur yang membantunya mengelola panti asuhan itu.
“Selama ini kami belum pernah menerima bantuan dari pemerintah. Setiap hari kami harus mengeluarkan biaya sekitar Rp400 ribu,” timpal Ester.
Sejumlah anak asuh mereka kini berada di jenjang beragam, mulai dari taman kanak-kanak sampai sekolah menengah atas. Anak-anak itu berasal dari berbagai daerah, seperti Manado, Ambon, Kupang, Lombok, Medan, Palembang, Lampung, dan Jawa. “Sekolah mereka kami biayai,” ucapnya.
Karena keterbatasan dana, panti tersebut tidak punya banyak sarana. Untuk alat musik, kata Gideon, baru ada gitar. Di tempat bermain pun, hanya ada perosotan bermodalkan dua karung pasir dan plastik semen.
“Perayaan Natal kami sambut sederhana, tapi penuh dengan cinta kasih,” ungkap Gideon. Di belakangnya, anak-anak terus menyanyi dengan lantang dan riang, merengkuh kegembiraan di tengah keterbatasan. (S-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved