Headline
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Kumpulan Berita DPR RI
PULUHAN kelompok LGBT di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), waktu itu melakukan upacara pengibaran bendera di halaman gedung Dwipari, Jalan Tamansiswa, Kota, Yogyakarta. Lagu-lagu kebangsaan mereka kumandangkan, doa dan harapan mereka panjatkan dalam rangka memeringati hari Kemerdekaan ke-72 Republik Indonesia.
Pagi itu sekitar pukul 08.00 WIB, suasana halaman gedung Dwipari sudah ramai. Inesh dari Ikatan Waria Yogyakarta (Iwayo), sudah datang lebih awal. Dia terlihat sibuk mondar-mandir dan menyalami satu-persatu peserta upacara yang baru datang.
Hari itu, ada beberapa kelompok LGBT yang ikut upacara. Ada Iwayo, Pesantren Waria Al-Fatah, People Like Us Satu Hati (Plush), dan Youth Forum PKBI DIY. Mereka yang sudah datang langsung berkumpul di halaman.
Warna pakaian yang mereka kenakan sama, merah-putih. Namun ada juga yang memakai batik. Sementara lainnya memakai kebaya dan bersanggul. Beberapa diantara ada yang masih dandan, memakai bedak dan lisptik.
YS Albuchori salah satu waria yang juga santri di Pesantren Al-Fatah, terlihat sedang merapikan bulu matanya. “Ini khsusus untuk upacara kemerdekaan,” katanya sambil menunjuk bulu matanya.
YS Buchori mengaku punya persiapan khusus dalam merayakan kemerdekaan. Dia sewa kebaya dan perlengkapan rias di tempat langganannya. Sehingga dia dan kawan-kawan waria lainnya nampak seragam. “Pakaiannya kami sewa, khusus untuk acara 17-an,” katanya.
Untuk dandan, YS Albuchori mengaku kawan-kawannya sudah mulai sejak jam 6 pagi. “Apalagi yang ikut paduan suara, mereka sejak pagi sudah bersiap, jam 06.00 WIB,” imbuhnya.
Demi merayakan HUT RI, banyak persiapan yang dilakukan. Purwanti misalnya, didaulat sebagai dirigen dalam upacara untuk menyanyikan lagu-lagu kebangsaan, dia harus latihan selama 3 hari.
Inesh menghampiri YS Albuchori, “Ini mana sih, Tama sang Komandan Upacaranya kan belum datang,” tanyanya.
“Sabar, sebentar lagi datang,” jawab YS Albuchari seraya memanggil teman-temannya untuk segera berkumpul di halaman.
Jam sudah menunjuk pukul 09.00. YS Albucori yang kebagian menjadi protokol upacara mempersiapkan sound system apa adanya. Shinta Ratri, pemimpin Pondok Alfatah sudah bersiap sebagai Inpektur Upacara. Tak berselang lama, Komandan Upacara Mario Pratama dari Plush datang. Dia membawa bendera pelangi dan membagikan kepada beberapa orang yang sudah hadir.
“Ayo dimulai saja, nanti keburu panas,” kata Shinta Ratri. Dan sekitar pukul 09.30 upacara peringatan kemerdekaan RI ke 72 dimulai.
Nasionalisme
Sayup-sayup lagu Indonesia Raya karya Wage Rudolf Supratman terdengar usai pembacaan teks proklamasi. Semakin lama lagu itu semakin jelas mengalun mengiringi penaikan bendera Merah putih di batang bambu yang tingginya sekitar 4,5 meter.
Seluruh peserta yang mengikuti upacara bendera memberikan hormat kepada Sang Merah Putih sesuai Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan.
Di pasal 15 ayat 1 disebutkan, bahwa pada waktu penaikan atau penurunan bendera negara, semua orang yang hadir memberi hormat dengan berdiri tegak dan khidmat sambil menghadapkan muka kepada bendera negara sampai penaikan atau penurunan bendera negara selesai.
Usai lagu, Komandan Upacara memberikan aba-aba selesaianya penghormatan bendera Merah Putih. “Tegak, grak!,” teriaknya lalu diikuti sikap tegak seluruh peserta upacara.
Susunan acara mereka lalui semua dengan penuh khidmat, mulai dari pembacaan teks Pancasila oleh Inspektur Upacara, pembacaan Pembukaan UUD 1945, dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan secara bersamaan, seperti Hari Merdeka karya H. Mutahar, Maju Tak Gentar karya Cornel Simanjuntak, dan Nyiur Hijau karya Maladi.
Nasionalisme tak terbatas, kalimat itu pantas disematkan kepada mereka yang mengikuti upacara bendera perayaan Kemerdekaan ke-72 RI. Seperti tersurat dalam pidato Shinta Ratri.
Terik mentari semakin terasa mengiring berjalannya waktu. Shinta masih di depan sebagai inspektur upacara. Memakai jarik warna merah bermotif bunga dipadukan baju lengan panjang warna putih dan kerudung yang warnanya sama dengan jarik, mulai mengambil ancang-ancang untuk berpidato.
Shinta mengaku bangga dengan semua peserta yang hadir khsusunya kepada sejumlah kelompok LGBT yang ikut merayakan upacara kemerdekaan RI ke-72. Baginya, kehadiran kelompok LGBT adalah bukti nasionalisme dan bentuk Warga Negara Indonesia
“Kita semua di sini sebagai warga negara yang punya rasa cinta kepada tanah air, kita mampu berbangsa dan bernegara dengan baik. Saya sangat mengapresiasi kehadiran kawan-kawan semua,” ujarnya.
Shinta memberikan penghargaan kepada peserta upacara. Dia tahu bagaiamana persiapan yang dilakukan sejumlah peserta. Seperti YS Albuchori dan peserta paduan suara yang harus menyewa kebaya.
Hapus Diskriminasi
Sebenarnya upacara bendera memeringati kemerdekaan RI secara secara serentak oleh kelompok LGBT dan aktifis kebergaman, sudah pernah digelar. Namun itu sudah lama, 4 tahun tahun silam. Setelah itu, upacara dilakukan tak terkoordinasi dan sendiri-sendiri.
Kondisi itu karena mulai bermunculan stigma di tengah masyarakat tentang keberadaan kelompok LGBT. Itulah yang diungapkan Mario Pratama usai mengikuti upacara. “Ruang gerak kami selalu dibatasi,” ujarnya.
Mario meneruskan, barangkali kelompok LGBT yang mengikuti upacara bendera atau acara lain di kampungnya, tidak bisa mengekspresikan diri. Padahal salah satu bentuk kemerdekaan adalah bisa melakukan upacara sebagai dirinya sendiri. Namun ketika mencoba mengekspresikan sebagai diri sendiri, kelompok LGTB sering mendapat tekanan.
“Makanya kami butuh tempat aman untuk upacara dan bisa mengekspresikan diri,” terangnya.
Komandan upacara itu pun senang, peserta yang hadir cukup banyak. Dan itu adalah tanda bahwa kelompok LGBT bisa rukun dan memiliki rasa nasioanlisme tinggi. Baginya, perayaan kemerdekaan adalah sebuah pengingat bahwa kemerdekaan butuh perjuangan. “Kalau kita ingin merdeka, maka harus diperjuangkan,” katanya.
Karena 17 Agustus bukan hanya milik Sukarno yang memproklamasikan kemerdekaan. Bukan hanya milik Hatta, Syahrir, Sudirman, Bung Tomo, Tan Malaka, Natsir, Musso, Amir Syarifuddin, Ngurah Rai, saja. Kemerdekaan Indonesia adalah milik semua rakyat Indonesia: puluhan, ratusan, ribuan bahkan jutaan orang yang ada di Indonesia. Kemerdekaan atau revolusi nasional adalah milik kita semua, termasuk semua rakyat miskin yang ikut angkat bambu runcing untuk berjuang dan merebut kemerdekaan.
Bagi Mario, merdeka artinya tidak ada lagi diskriminasi, tak ada lagi pelanggaran hak asasi manusia. Dan harapan itulah yang terus diperjuangkannya. Mario Pratama pun berharap, dari upacara serentak itu, negara mengetahui bahwa LGBT itu warga negara yang cinta Indonesia, punya hak sebagai warga negara dan harus mendapatkan jaminan serta perlindungan dari negara.
“Kami warga negara harusnya diperlakukan sama, dijamin hak-haknya dan dilindungi,” katanya.
Doa Keberagaman
Acara demi acara mereka lalui, mulai dari detik-detik proklamasi, pengibaran Bendera Merah Putih, pembacaan Pancasila, pembacaan UUD, dan nyanyian lagu-lagu kebangsaan.
Shinta Ratri yang menjadi inspektur upacara bangga dengan kehadiran kelompok LGBT Yogyakarta di upacara itu. “Sebagai warga yagn cinta tanah air, hari ini kita berkumpul merayakan upacara kemerdekaan. Saya sangat mengapresiasi kehadiran kawan-kawan semua. Saya berharap tahun depan lebih ramai dan terkordinasi,” katanya.
Sebelum acara usai, seluruh peserta mengamini doa yang diucapkan Arif Nur Syafri, Kiai yang selama ini mendampingi Pondok Alfatah. Dia berdiri di tengah teriknya mentari, jas hijau yang dikenakannya seolah menjadi mantel antipanas di siang itu.
“Marilah kita bersama-sama berdoa menurut kepercayaan kita masing-masing,” ajaknya untuk memulai doa bersama.
Di hari kemerdekaan itu, mereka berdoa agar diberikann kekuatan untuk dapat melanjutkan, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan dengan berbagai kegiatan yang positif dan baik untuk Indonesia tercinta.
Keberagaman menjadi doa yang selalu mereka pinta. Berdoa agar Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, agama, dan adat istiadat, dapat terus bersatu dalam keberagaman, dan berdoa agar perbedaan menjadi rahmat bagi seluruh rakyat Indonesia. “Berikan kepada kami kesadara bahwa kami akan indah dalam persatuan dan kebegaraman.”
Mereka khusuk dan khidmat berdoa. Mereka berdoa agar selalu mendapatkan kekuatan dalam mencintai perbedaan, mampu menyebarkan perdamaian, memperkuat diri, keluarga, masyarakat dan bangsa Indonesia. Doa kepada pemipimpin pun mereka pinta, agar mendapatkan pemimpin yang bisa mendegarkan aspirasi rakyat dan mereka semua menjadi rakyat yang bisa merasakan apa yang dirasakan pemipinnya.
“Jadikanlah dan berikanlah kepada kami pemimpin yang mampu merasakan apa yang dirasarakan rakyatnya dan jadikalanlah kami rakyat yang mampu merasakan apa yang dirasakan pemimpin kami.”
Usai berdoa, mereka semua bersalaman dan ada yang berpelukan. Saling mengekpresikan kegembiraan masing-masing dan mengucapakan selamat atas kemerdekaan RI. Harapannya, mereka juga bisa merdeka dan diakui oleh negara sebagai manusia.
“Merdeka!” pekik Nur Handoko salah satu santri Pesantren Waria.(OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved