Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Transparansi Pembangunan dari Desa Hadakewa

22/11/2017 08:13
Transparansi Pembangunan dari Desa Hadakewa
(MI/ALEXANDER TAUM)

MENCEGAH korupsi salah satunya dengan pendekatan teknologi. Transparansi dalam pengelolaan keuangan lewat teknologi diyakini banyak orang bahkan pemerintah bisa menekan korupsi.

Teknologi bisa membantu menekan korupsi direspons positif Kepala Desa Hadakewa, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, Klemens Kewaaman.

Sarjana teknik kelistrikan itu mengelola pemerintahannya serta keuangan desa dengan pendekatan teknologi. Sejak menjadi kepala desa pada 2016, ia meletakkan dasar mengelola pemerintahan secara jujur dan jauh dari korupsi.

Ia pun membuat website desa yang isinya tentang penetapan Anggaran Pembangunan dan Belanja Desa (APB-Des) 2017. "Saya unduh di website desa kami agar masyarakat bisa melihat berapa besar anggaran untuk pembangunan desa dan untuk apa saja. Termasuk total pendapatan asli desa, pajak, retribusi, dan sebagainya," kata Klemen kepada Media Indonesia, Kamis (2/11).

Website bernama Hadakewa.desa.id itu menggunakan sistem sederhana. Fitur-fitur yang ditampilkan juga sederhana dan mudah dipahami. Website itu juga membuka layanan masyarakat, misalnya ada warga yang ingin mengurus surat kelakuan baik, staf desa tinggal mendata nama. "Saat nama dimasukkan ke database tidak lama kemudian langsung dicetak. Layanan mengurus surat tidak sampai 1 menit," kata Klemens.

Dengan website itu, Klemens pun tahu apa yang diinginkan masyarakat setiap kali datang ke kantor desa. "Website itu juga membantu kita untuk mempromosikan potensi desa yang belum diketahui orang lain. Kami menjalankan website ini bersama relawan website. SDM yang kami punyai juga terbatas. Sarjana masih bisa dihitung dengan jari. Namun, kami mau tunjukkan bahwa kami warga Desa Hadakewa juga mampu," terangnya.

Website yang dikelola secara swadaya itu diharapkan bisa menjadi contoh desa-desa lainnya dalam menjalankan transparansi pembangunan dan pengelolaan keuangan. Berkat website itu, banyak desa menginginkan hal sama. Klemens yang belajar sendiri membuat website kini menjadi pelatih pembuatan website untuk dua desa di wilayah Kecamatan Lebatukan.

Dengan website itu, lanjut Klemens, ia bisa mengajari warga desa mengenai bagaimana memanfaatkan waktu dengan lebih efisien. "Pelayanan kepada masyarakat lebih efisien dan kami bisa mengeliminasi persoalan-persoalan desa karena adanya transparansi," pungkasnya. (Alex P Taum/N-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya