Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Pertalite, dari Terpaksa Jadi Terbiasa

Rendy Ferdiansyah
13/10/2017 21:47
Pertalite, dari Terpaksa Jadi Terbiasa
(MI/Rendy Ferdiansyah)

PAGI itu sekitar pukul 07.00 WIB, Fitriyanti, 32, warga Senang Hati IV Kecamatan Sungailiat Kabupaten Bangka bergegas menghidupkan sepeda motornya.

Celakanya, di jalan menuju tempat kerja, ia baru sadar kalau bahan bakar minyak (BBM) sepeda motornya sudah hampir habis. Jarum indikator BBM pada speedometer sepeda motornya sudah bertengger di tanda merah.

Takut keburu mogok di jalan dan harus mendorong, Fitri pun mempercepat laju sepeda motornya ke stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Dengan percaya diri, atau bahasa gaulnya pede, Fitri langsung menuju ke petugas pengisian BBM khusus premium. Padahal, di depanya sudah terpampang tulisan Premium habis karena sedang dalam pengiriman. Entah pura-pura tidak tahu, atau memang tidak melihat.

"Bensin (premium) bang Rp20 ribu," kata Fitri, kepada pria berseragam merah sebagai ciri khas petugas SPBU itu.

"Maaf mbak, bensinnya habis, jam segini belum datang, kan sudah ada tulisannya di depan," jawab petugas SPBU tersebut yang langsung membuat Fitri tersenyum malu.

Karena tidak ada pilihan, pegawai honorer di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Bangka itu pun terpaksa memundurkan sepeda motornya tepat di tempat pengisian BBM jenis Pertalite, yang tidak begitu jauh dari pengisian Premium.

Setelah diisi pertalite senilai Rp20 ribu, Fitri kembali menunggangi sepeda motornya untuk menuju ke tempat bekerja.

Fenomena seperti yang dialami Fitri sepertinya banyak dialami pula oleh sebagian pemilik kendaraan bermotor, apakah itu roda empat atau roda dua. Maklum, sudah hampir sebulan ini, di Kota Sungailiat premium hanya dapat dijumpai pada siang hari. Sedangkan pada pagi hari seluruh SPBU di kota itu hanya menjual BBM jenis pertalite.

Memang awalnya, konsumen yang terbiasa mengisi BBM premium terpaksa beralih ke pertalite. Tetapi demi kebutuhan sehari-hari lama-lama para konsumen pun terbiasa menggunakan jenis BBM jenis baru tersebut.

Pertalite sendiri adalah BBM yang dikeluarkan Pertamina dengan research octane number (RON) 90. Tujuan pemerintah merilis pertalite ialah agar masyarakat secara perlahan hijrah dari premium ke bahan bakar nonsubsidi.

Memang, saat ini premium sudah bebas subsidi, tetapi untuk yang dipasarkan ke luar Pulau Jawa tetap ada biaya distribusi yang ditanggung pemerintah. Padahal, harga harus disamaratakan untuk seluruh wilayah.

Tujuan lain dari pemanfaatan pertalite, Pertamina berharap dengan jenis bahan bakar dengan kadar oktan lebih tinggi dapat mewujudkan energi yang ramah lingkungan.

Area Manager Comunication dan Relations Pertamina Sumbagsel M Roby Hervindo mengatakan, kuota pertalite untuk Provinsi Bangka Belitung belum bisa disampaikan, karena bukan BBM bersubsidi sehingga termasuk ke data rahasia perusahaan dalam kaitanya dengan persaingan bisnis.

"Secara komposisi, pertalite di Provinsi Bangka Belitung mencapai 37% dari total konsumsi, tetapi kami tidak bisa menyebutkan berapa banyak kuotanya, karena itu data rahasia," kata Roby. Terkait harga, ia menyebut harga pertalite untuk Babel saat ini Rp7.700 per liter.

Pada kesempatan itu, ia pun mengklarifikasi mengenai premium kosong di SPBU pada pagi hari. Menurutnya, itu semata karena BBM premium sedang dalam perjalanan atau pengiriman dari terminal bahan bakar minyak (TBBM). Dengan memperhitungkan jarak dan kondisi jalan, ada jeda waktu untuk BBM sampai ke SPBU.

"Jadi bukannya sengaja kosong atau mau menghilangkan premium, melainkan memang masih dalam perjalanan ke SPBU," ucapnya.

Saat ini, lanjutnya, konsumsi BBM jenis premium masih mendominasi di Babel mencapai 58%. "Di Babel konsumsi premium masih mendominasi sekitar 58% atau sekitar 15.500 kiloliter per bulan," ujar Roby.

Intinya, menurut Roby, Pertamina tetap menyediakan beragam jenis BBM sesuai kebutuhan masyarakat dan tidak akan menghilangkan premium dari pasaran. Sepenuhnya kebebasan masyarakat untuk memilih jenis BBM yang sesuai dengan kebutuhannya.

"Jadi tidak perlu dipertentangkan antara satu jenis BBM tertentu dengan lainnya, misalnya premium vs pertalite. Sebagian masyarakat beralih ke pertalite karena memang mereka sudah merasakan pertalite lebih unggul," tutur dia.

"Kita hadir untuk mewujudkan ketahanan dan keadilan energi, khususnya bagi seluruh masyarakat yang ada di Provinsi Bangka Belitung," tutup Roby. (X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya