Headline
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Kumpulan Berita DPR RI
PULUHAN orang yang tergabung dalam beberapa kelompok lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kamis (17/08), memeringati hari kemerdekaan ke-72 Republik Indonesia dengan melakukan upacara pengibaran bendera di halaman gedung Dwipari, Jalan Tamansiswa, Kota, Yogyakarta.
Pagi itu sekitar pukul 08.00 WIB, suasana halaman gedung Dwipari sudah ramai. Inesh dari Ikatan Waria Yogyakarta (Iwayo), sudah datang lebih awal. Dia terlihat sibuk mondar-mandir dan menyalami satu-persatu peserta upacara yang baru datang.
Hari itu, ada beberapa kelompok LGBT yang ikut upacara. Ada Iwayo, Pesantren Waria Al-Fatah, People Like Us Satu Hati (Plush), dan Youth Forum PKBI DIY. Mereka yang sudah datang langsung berkumpul di halaman. Warna pakaian yang mereka pakai sama, merah-putih. Namun ada juga yang memakai pakaian batik. Sementara yang waria memakai kebaya dan bersanggul.
Beberapa diantara ada yang masih dadan, memakai bedak dan lisptik. Sementara YS Albuchori salah satu waria yang juga santri di Pesantren Al-Fatah, terlihat sedang merapikan bulu matanya. "Ini khsusus untuk upacara kemerdekaan," katanya sambil menunjuk bulu matanya.
YS Buchori mengaku punya persiapan khusus dalam merayakan kemerdekaan. Dia sewa kebaya dan perlengkapan rias di tempat langganannya. Sehingga dia dan kawan-kawan waria lainnya nampak seragam.
Untuk dandan, YS Albuchori mengaku kawan-kawannya sudah memulainya sejak jam 06.00 Wib. "Apalagi yang ikut paduan suara, mereka sejak pagi jam enam sudah bersiap," katanya.
Demi merayakan HUT RI, banyak persiapan yang dilakukan. Purwanti misalnya, didaulat sebagai dirigen dalam upacara untuk menyanyikan lagu-lagu kebangsaan, dia harus latihan selama tiga hari. "Latihan dulu, 3 hari," katanya.
Inesh menghampiri YS Albuchori, "Ini mana sih, Tama sang Komandan Upacaranya kok belum datang," tanyanya.
"Sabar, sebentar lagi datang," jawab YS Albuchari seraya memanggil teman-temannya untuk segera berkumpul di halaman.
Jam sudah menunjuk pukul 09.00. YS Albucori yang kebagian menjadi protokol upacara mempersiapkan sound system apa adanya. Shinta Ratri, pemimpin Pondok Alfatah sudah bersiap sebagai Inpektur Upacara. Tak berselang lama, Tama dari Plush datang.
Dia membawa bendera pelangi dan membagikan kepada beberapa orang yang sudah hadir. "Ayo dimulai saja, nanti keburu panas," kata Shinta Ratri.
Dan sekitar pukul 09.30 upacara peringatan kemerdekaan ke-72 dimulai. Dan bagian acar demi acara mereka lalui, mulai dari detik-detik proklamasi, pengibaran bendera merah putih, pembacaan pancasila, pembacaan UUD 1945, dan nyanyian lagu-lagu kebangsaan.
Shinta Ratri yang menjadi inspektur upacara bangga dengan kehadiran kelompok LGBT Yogyakarta di upacara itu. Dia ingat, acara peringatan kemeredekaan secara serentak oleh kelompok LGBT Yogyakarta terakhri diadakan pada 4 tahun lalu.
"Sebagai warga yagn cinta tanah air, hari ini kita berkumpul merayakan upacara kemerdekaan. Saya sangat mengapresiasi kehadiran kawan-kawan semua. Saya berharap tahun depan lebih ramai dan terkordinasi," katanya.
Mario Pratama sang komandan upacara berujar, perayaan kemerdekaan oleh kelompok LGBT adalah sebuah pengingat bahwa kemerdekaan butuh perjuangan. "Kalau kita ingin merdeka, maka harus diperjuangkan," katanya.
Tak hanya itu, dia berharap dari upacara serentak oleh LGBT Yogyakarta itu, Tama berharap Negara mengetahui bahwa LGBT itu warga negara yang cinta Indonesia, punya hak sebagai warga negara dan setara dengan warga yang lain. “Kami warga negara harusnya diperlakukan sama," katanya.
Namun selama ini Tama mengaku, kelompok LGTB sering mendapat tekanan. Untuk upacara di kampung atau sekolahnya saja tidak bisa mengekspresikan diri. "Makanya kami butuh tempat aman untuk upacara dan bisa mengekspresikan diri," imbuhnya.
Usai upcara mereka saling berpelukan dan mengucapakan selamat atas kemerdekaan RI. Harapannya, mereka juga bisa merdeka dan diakui oleh negara sebagai manusia. "Merdeka!," pekik Nur Handoko.(OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved