Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
FREKUENSI getaran gempa yang terdeteksi berpusat di wilayah Sukabumi, Jawa Barat, selama Januari hingga pertengahan Juli tahun ini relatif tinggi. Pada kurun semester I-2017, jumlah kejadian gempa mencapai 29 kali.
"Hasil rekapitulasi yang tercatat di Pusdalops BPBD, selama Januari hingga pertengahan Juli ini terjadi 29 kali getaran gempa berpusat di wilayah Sukabumi," terang Koordinator Pusat Pengendali dan Operasi BPBD Kabupaten Sukabumi, Yana Rusyana, Jumat (14/7).
Kejadian gempa paling banyak terjadi pada Januari mencapai 11 kali. Lalu pada Februari sebanyak 6 kali, Maret 3 kali, April 7 kali, Mei 1 kali, Juli 1 kali. Rata-rata magnitude gempa berkekuatan 4 Skala Richter (SR) hingga 5 SR.
"Magnitudo paling besar berkekuatan 5,1 SR pada 23 Januari. Koordinatnya berada di 8.50 Lintang Selatan, 105.87 Bujur Timur berada di kedalaman 10 km. Getaran gempanya tak berpotensi tsunami," terang Yana.
Selanjutnya, magnitudo terbesar kedua berkekuatan 5,2 SR pada 8 Februari di titik koordinat 7.64 Lintang Selatan, 106.90 Bujur Timur berada di 79 kilometer Barat Daya Kota Sukabumi di kedalaman 25 km.
Pada Jumat (14/7), terjadi kembali dua kali getaran gempa berpusat di Sukabumi. Kali pertama gempa berkekuatan 2,8 SR di titik koordinat 7.23 Lintang Selatan, 107.21 Bujur Timur di 45 km tenggara Kota Sukabumi di kedalaman 10 kilometer sekitar pukul 05.06 WIB.
Getaran kedua terjadi pada pukul 06.57 WIB berkekuatan 3,1 SR di titik koordinat 7.96 Lintang Selatan, 107.40 Bujur Timur di kedalaman 23 kilometer.
"Getaran gempa tadi kekuatannya kecil dan pusat gempanya dalam, sehingga gempanya tidak dirasakan manusia, tapi hanya terekam alat perekam (seismograf)," jelas Yana.
Tidak ada infrastruktur bangunan terdampak gempa yang berpusat di Sukabumi. Kerusakan bangunan hanya dampak dari gempa yang berpusat di Kabupaten Garut berkekuatan 5,1 SR pada 16 Februari silam.
Kepala Seksi Kesiapsiagaan dan Pencegahan BPBD Kota Sukabumi, Zulkarnain Bahrami, menyebutkan tren getaran gempa belakangan ini cenderung meningkat.
Namun yang berepisentrum langsung di titik koordinat di Kota Sukabumi sejauh ini belum ada. "Kalau getaran yang berpusat di Kota Sukabumi belum ada, kita hanya terdampak shake (getaran) saja dari beberapa daerah," ujarnya kepada Media Indonesia.
Secara geografis Kota Sukabumi memang berada di lokasi pergeseran sesar (patahan) wilayah Parahiyangan hingga ke Palabuhanratu dan Banten. Rata-rata dalam satu bulan terjadi dua kali getaran gempa. (X-12)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved