Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD ) Wonogiri terus persiapkan proses siaga darurat bencana kekeringan, seiring datangnya musim kemarau selama beberapa pekan terakhir. Kemarau tersebut kini sudah menggerus kebutuhan air bersih di 39 desa dalam 8 kecamatan di wilayah selatan Kabupaten Wonogiri.
"Kita telah persiapan siaga darurat penanggulangan bencana kekeringan. Meski masyarakat masih mengatasi kebutuhan air bersih secara mandiri, Tim Siaga Bencana terus memantau telaga dan embung yang sudah susut dan upaya pasokan air ke desa yang benar-benar mengalami krisis air bersih," tukas Kepala BPBD Wonogiri Bambang Haryanto, Rabu (12/7).
Sejak sebelum Lebaran, wilayah Wonogiri selatan sudah jarang diguyur hujan. Situasi ini membuat puluhan ribu warga di 39 desa di kecamatan Paranggupito, Giritontro, Pracimantoro, Eromoko, Giriwoyo, Manyaran dan Nguntoronadi harus berusaha mencukupi kebutuhan air bersih dengan cara membeli secara mandiri.
Seperti yang dilakukan warga Dusun Gemulung, Desa Johunut, Kecamatan Paranggupito, sejak sebelum Lebaran tandon-tandon penampung air hujan mulai kosong dan harus mencukupi kebutuhan air bersih dengan membeli. Satu tangki air bersih volume 6.000 liter dibanderol Rp120.000.
"Dalam satu pekan untuk rata-rata satu keluarga satu tangki air bersih volume 6.000 liter," ujar Dalimin yang mengaku sudah habis tiga tangki.
Dalimin menambahkan hampir seluruh warga Desa di Kecamatan Paranggupito mulai membeli air bersih sejak sebulan lalu. Puluhan ribu warga di kecamatan yang berada di pinggir pantai selatan itu selalu mengalami krisis air bersih jika kemarau datang.
"Solusinya ya membeli air, dan juga berharap bantuan air bersih dari pemerintah atau dermawan," imbuh dia.
Seorang staff bagian teknis Pemerintahan Kecamatan Paranggupito, Dwi Hartono, mengakui sekitar 25% warga di wilayahnya sudah mulai membeli air bersih dalam tangki sejak sebulan lalu. Kekeringan menyebar di hampir seluruh wilayah Paranggupito.
"Terutama warga kelas menengah ke bawah sudah mulai beli karena mereka tandon tampungan air hujan ber bervolume 6.000 liter sebagian besar sudah habis. Yang tidak mampu membeli air, mencoba mencari sumber air untuk mencukupi kebutuhan air bersih. Belum ada permohonan bantuan secara resmi dari kantor Pemdes," kata dia.
Pada bagian lain, Kepala BPBD Bambang Haryanto mengatakan pihaknya untuk kepentingan perawatan embung dan telaga, telah meminta bantuan dana ke Pemprov Jateng dan juga BNPB, yang besarnya tiap embung sebesar Rp1,5 miliar hingga Rp2 miliar.
"Untuk 2017 ini ada lima embung yang kita ajukan untuk direkonstruksi agar tetap maksimal menampung dan menyimpan air," papar dia.
Terkait dana Rp 13 miliar lebih yang dipersiapkan Pemkab Wonogiri, Bambang menyebut itu dana untuk pengelolaan air bersih di wilayah kantong kering.
"Itu untuk menarik air dari sumber air dan juga pipanisasi ke rumah warga. Mudah-mudahan ini akan menjadi solusi jangka panjang dan mampu mengurangi ketergantungan droping air yang selama ini biayanya diambilkan dari dana tidak terduga," tandas dia. (X-12)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved