Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Produk dari Limbah Sulit Dipasarkan

MI/PUTRI ANISA YULIANI
03/12/2015 00:00
Produk dari Limbah Sulit Dipasarkan
(MI/USMAN ISKANDAR)
SELAIN mengelola sampah dengan cara memilah berdasarkan jenisnya kemudian menjualnya, para pengurus bank sampah di Jakarta mengolah atau mendaur ulang menjadi barang baru. Sampah plastik berbagai bekas kemasan pun menjadi barang dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Produk yang dihasilkan antara lain tas, keranjang minuman kemasan, dan sejumlah perlengkapan rumah tangga lainnya. Sayangnya, mereka kesulitan memasarkan produk-produk hasil daur ulang itu.

Pengurus Bank Sampah Jalak Green Collection (JGC) bahkan berhenti memproduksi barang dari bahan sampah akibat persoalan itu. Kini pengurus bank sampah yang terletak di RW 05 Kelurahan Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur, tersebut kembali menjual langsung sampah yang mereka pilah ke pengepul atau pengusaha rongsokan.

"Dulu pernah ada pelatihan melipat kemasan plastik minuman seduh (menjadi barang). Namun setelah dibuat menjadi barang, tidak ada yang membeli dengan alasan harganya mahal. Karena itu, kami tidak meneruskan lagi. (Sampah yang telah dipilah) kami jual ke pengepul saja," kata Parti, salah seorang pengurus Bank Sampah JGC saat ditemui Media Indonesia pada acara peluncuran Sistem Informasi Bank Sampah (Sibas), pekan lalu.

Ia juga mengungkapkan bank sampah yang dikelolanya sulit mendapatkan lahan. Selama ini Bank Sampah JGC menempati kantor RW yang sempit sehingga tidak banyak kegiatan bisa dilakukan di lokasi itu.

Selama dua tahun berdiri, ujarnya, Bank Sampah JGC juga baru memiliki 100 anggota. Parti mengakui pertumbuhan jumlah anggota sangat kecil karena warga di lingkungan itu sulit diajak memilah sampah dan menabungnya di bank sampah.

Suharti, istri ketua RW 05 Kelurahan Batu Ampar, Jakarta Timur, yang juga Ketua Bank Sampah Anyelir, mengaku masih harus melakukan pola menjemput tabungan bank sampah. Namun, ia melakukannya satu minggu sekali.

Menurutnya, sistem jemput bola demikian harus terus dilakukan guna meningkatkan kesadaran masyarakat tentang manfaat bank sampah. "Karena banyak yang malas ke bank sampah, kami yang jemput. Kalau tidak dijemput, tidak akan jadi. Warga masih manja karena belum merasakan manfaatnya. Selagi menjemput, kami selalu berulang-ulang memotivasi mereka," kata Suharti.

Setali tiga uang dengan di Bank Sampah JGC, Bank Sampah Anyelir juga kesulitan memasarkan produk daur ulangnya. Meski demikian, bank sampah tersebut mampu bertahan dari bantuan tanggung jawab sosial perusahaan swasta multinasional.

Selama ini bank sampah itu tidak mendapat bantuan dana dari dinas kebersihan. Fasilitas pemasaran produk pun hanya dilakukan pada acara-acara pameran dan seremonial yang diselenggarakan instasi itu. Dinas kebersihan hanya memberi bantuan sepeda dan gerobak motor untuk menjemput sampah dari rumah nasabah.

Janji bantu pasarkan

Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta Isnawa Aji berjanji membantu memasarkan produk-produk olahan bank sampah dengan mempromosikan ke perusahaan swasta yang kerap bekerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta.

Ia juga akan terus membangun minimal lima unit bank sampah di setiap kecamatan. Program itu ditargetkan berjalan mulai akhir tahun ini. Saat ini jumlah bank sampah di DKI sekitar 200 unit. "Dari 6.500 ton volume sampah di DKI, sekitar 60% atau 4.000 ton di antaranya berasal dari rumah tangga. Kalau diolah, bisa sangat menguntungkan," kata dia. (J-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya