Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Sistem RTL Air Asia Alami Kerusakan

Bow/X-4
02/12/2015 00:00
Sistem RTL Air Asia Alami Kerusakan
Plt Kasubkom Investigasi Kecelakaan Penerbangan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Nurcahyo Utomo menjelaskan tahapan jatuhnya pesawat saat rilis hasil penyelidikan kecelakaan pesawat Air Asia QZ 8501 di Jakarta, Selasa (1/12).(ANTARA/Hafidz Mubarak A.)

KOMITE Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menemukan sebanyak 23 kerusakan pada sistem rudder travel limiter (RTL) atau sayap kemudi pesawat Indonesia Air Asia yang jatuh di Selat Karimata 28 Desember 2014.

Temuan KNKT tersebut berdasarkan serangkaian pemeriksaan pada catatan perawatan pesawat selama 12 bulan terakhir.

"Dalam tiga bulan terakhir interval kerusakan (RTL) ini menjadi lebih pendek atau sering," kata Plt Kasubkom Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo, kemarin.

Selain RTL, lanjut Nurcahyo, KNKT juga menyelidiki komponen pesawat QZ8501, rudder traveler limiter unit (RTLU), di ekor pesawat. Dari hasil penyelidikan KNKT menemukan retakan solder pada modul elektronik RTLU yang menyebabkan hubungan berselang, berkelanjutan, dan berulang.

"Retakan solder ini kemungkinan disebabkan posisi RTLU yang berada di ekor. Ini merupakan ruangan yang tidak memiliki pendingin sehingga lingkungan kerja menjadi sangat ekstrem," ujar Nurcahyo.

Nurcahyo mengungkapkan pesawat rute Surabaya-Singapura yang mengangkut 162 penumpang itu mengalami gangguan RTL empat kali setelah lepas landas dari Bandara Juanda pukul 05.35 WIB. Tiga gangguan awal mampu ditangani awak pesawat sesuai instruksi dari Electronic Centralized Aircraft Monitoring (ECAM).

Adapun gangguan keempat pada pukul 06.15 mencatat indikasi berbeda jika dibandingkan dengan gangguan sebelumnya. Tindakan terakhir menyebabkan gangguan listrik yang memadamkan flight augmentation computer (FAC). FAC ialah bagian dari sistem fly by wire di pesawat A320 yang berfungsi melakukan kontrol terhadap kemudi.

"Pengendalian pesawat secara manual mengakibatkan pesawat dalam kondisi upset dan stall berkepanjangan sehingga berada di luar batas-batas penerbangan yang dapat dikendalikan awak pesawat," ungkap Nurcahyo.

Saat menanggapi hasil penyelidikan KNKT, Presdir Indonesia Air Asia Sunu Widyatmoko mengungkapkan pihaknya menggandeng mantan regulator FAA dan Bureau Veritas untuk meningkatkan standar keselamatan.

Direktur Keselamatan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara Kementerian Perhubungan M Alwi menegaskan regulator akan mengevaluasi hasil investigasi KNKT.

"Bukan hanya Indonesia Air Asia, tetapi pesawat Airbus A320 milik (seluruh) operator penerbangan," tandas Alwi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya